Surabaya — Lensaparlemen.id
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menargetkan persoalan banjir di sejumlah titik rawan wilayah selatan tuntas pada 2026. Untuk mewujudkan target tersebut, Pemkot menyiapkan berbagai strategi infrastruktur, mulai dari pembangunan rumah pompa baru, pengerukan saluran drainase, hingga pembangunan storage air di titik yang tidak memungkinkan dilakukan pelebaran saluran.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa penanganan banjir di wilayah selatan menjadi salah satu program prioritas pemerintah kota yang ditargetkan selesai pada 2026.
“Ini adalah pembangunan yang akan dilakukan di tahun 2026. Karena itu nanti target di tahun 2026 tidak ada lagi banjir,” ujar Eri Cahyadi usai meninjau sejumlah titik di wilayah Surabaya selatan, Senin (4/5/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Wali Kota Eri mengunjungi sejumlah lokasi strategis, mulai dari Rumah Pompa Ahmad Yani, Jalan Gayungsari Barat, hingga Rumah Pompa Nanggala di Dukuh Menanggal. Ia juga meninjau saluran yang terhubung dengan Rumah Pompa Ahmad Yani seperti Jalan Raya Jemursari, Jalan Raya Kendangsari, dan Jalan Raya Tenggilis Mejoyo.
Eri mengungkapkan bahwa Pemkot Surabaya juga akan membangun rumah pompa baru di beberapa titik rawan banjir, di antaranya kawasan Panjang Jiwo serta Medokan Semampir atau depan Gereja Bethany Nginden.
Menurutnya, lokasi tersebut dipilih karena setiap tahun kerap terdampak genangan saat curah hujan tinggi.
“Jadi nanti kita akan bangun rumah pompa baru di Panjang Jiwo depan SPBU, dan satu lagi di depan Gereja Bethany Nginden. Karena setiap tahun di sana terjadi banjir,” jelasnya.
Eri menegaskan bahwa pemetaan aliran air menjadi faktor penting dalam penanganan banjir. Perubahan arah aliran, elevasi saluran, hingga posisi rumah pompa harus dihitung secara detail agar hasilnya optimal.
“Aliran air harus dipahami betul, ada yang kita balik arah alirannya, maka elevasinya juga harus tepat, termasuk penempatan rumah pompanya,” ujarnya.
Ia optimistis, titik-titik yang menjadi fokus penanganan dapat bebas genangan pada November 2026.
“Insyaallah November, saat hujan turun pun titik-titik yang kita tinjau tidak lagi terjadi genangan,” tambahnya.
Untuk kawasan Menanggal dan Gayungsari Kebonsari, Pemkot Surabaya akan menyesuaikan metode pembangunan dengan kondisi saluran. Jika anggaran tidak memungkinkan, maka tahap awal akan menggunakan metode Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP) sebelum dilanjutkan dengan box culvert.
“Kalau box culvert belum cukup anggaran, kita gunakan CCSP dulu. Tahun berikutnya baru kita bangun box culvert. Namun pengerukan tetap dilakukan tahun ini,” jelas Eri.
Di sejumlah titik lain seperti Jalan Tenggilis Mejoyo menuju Panjang Jiwo, pelebaran saluran tidak dimungkinkan karena adanya jaringan SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi). Karena itu, Pemkot Surabaya memilih membangun sistem storage air di jalan sebagai solusi.
“Di lokasi yang tidak bisa dilebarkan atau dibangun saluran, kita buat storage di jalan untuk menampung dan membagi aliran air,” katanya.
Menurutnya, fungsi storage adalah mengurangi beban aliran menuju saluran utama seperti Kali Jagir dan Kali Surabaya, sehingga risiko banjir dapat diminimalkan.
Eri juga menyoroti perubahan fungsi lahan di Surabaya yang turut memperparah potensi genangan. Berkurangnya area resapan membuat hampir seluruh air hujan langsung masuk ke saluran drainase.
“Dulu masih banyak lahan terbuka, sekarang hampir semua tertutup bangunan. Akibatnya air hujan langsung masuk ke saluran tanpa resapan,” pungkasnya.
Reporter: Bambang
Editor: Redaksi





