Arsip Kategori: SURABAYA RAYA

Dishub Surabaya Tertibkan 7 Jukir Liar di Kawasan Kota Tua Zona Eropa

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar razia gabungan penertiban parkir liar di kawasan Kota Tua Zona Eropa atau sekitaran Taman Sejarah pada Rabu (12/6/2024) malam. Dalam giat penertiban tersebut, petugas berhasil menjaring tujuh orang Juru Parkir (Jukir) liar.

Penertiban ini dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya bersama petugas gabungan dari sejumlah instansi terkait. Yakni, Satpol PP Surabaya, Komando Garnisun Tetap (Kogartap) III/Surabaya, Sat Sabhara Polrestabes Surabaya serta jajaran Kecamatan Krembangan.

Kepala UPTD Parkir Tepi Jalan Umum (TJU) Dishub Kota Surabaya, Jeane Mariane Taroreh mengatakan, bahwa giat penertiban parkir kali ini difokuskan di kawasan Kota Tua Zona Eropa atau sekitaran Taman Sejarah.

“Harapan kami penertiban ini menjadi yang terakhir. Kami menertibkan tujuh orang Jukir yang sudah satu minggu kemarin kita melakukan penertiban, terjadi kucing-kucingan. Ditertibkan, kita geser, mereka datang kembali,” kata Jeane usai giat penertiban.

Ketujuh orang Juru Parkir liar tersebut, terjaring petugas gabungan di beberapa titik lokasi kawasan Kota Tua Zona Eropa Surabaya. Yakni, di Jalan Rajawali, Jalan Garuda, Jalan Kasuari, Jalan Glatik dan Jalan Veteran.

Usai terjaring razia, tujuh orang Jukir liar tersebut, oleh petugas gabungan kemudian dikumpulkan di depan Taman Sejarah. Mereka lantas dilakukan pendataan identitas, pembinaan dan teguran oleh petugas gabungan. “Kita sudah mendata identitas mereka, dengan harapan mereka tidak akan (lagi) melakukan hal tersebut,” ujar Jeane.

Namun demikian, Jeane memastikan, apabila ke depan ketujuh orang itu kembali membuka kantong parkir liar, pihaknya tak segan untuk memberikan sanksi tegas. “Hari ini teguran. Untuk berikutnya, apabila mereka masih melakukan, akan ada penindakan dari pihak terkait,” tegas dia.

Ia juga memastikan bahwa giat pengawasan dan penertiban parkir liar akan rutin dilakukan jajaran Dishub Surabaya di kawasan Kota Tua. Sementara untuk giat penertiban bersama petugas gabungan, akan dilaksanakan secara berkala.

“Kalau penertiban setiap hari. Untuk penertiban gabungan kami secara berkala akan terus melakukan dengan jajaran samping, Gartap, juga jajaran kewilayahan dan Satpol PP,” ungkap dia.

Menurut dia, keberadaan parkir liar ini akan menghambat kelancaran arus lalu lintas di sekitar lokasi. Selain itu, parkir liar juga akan merusak estetika kawasan Kota Tua Zona Eropa Surabaya. “Tentunya akan sangat merusak estetika yang ada, wisata. Orang yang berfoto akan terganggu dengan adanya parkir-parkir di tepi jalan umum ini,” terangnya.

Karena itu, pihaknya mengimbau wisatawan atau pengunjung Kota Tua untuk dapat memanfaatkan kantong-kantong parkir resmi yang tersedia di sekitar lokasi. Yakni, di Jembatan Merah Plaza (JMP) dan Terminal Kasuari Surabaya.

Kapasitas parkir di JMP ini mampu menampung sebanyak 1000 unit kendaraan roda dua (R2) dan 800 unit roda empat (R4). Sedangkan parkir di Terminal Kasuari, mampu menampung 30 unit R4 dan 40 unit R2. “Sangat cukup untuk menampung wisatawan yang akan menikmati Kota Lama Eropa,” pungkasnya. (B4M)

 

12.000 Warga Surabaya Ikuti Kelas Sekolah Orang Tua Hebat Angkatan ke-2

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) angkatan ke-2 sukses meraih antusiasme masyarakat di Kota Surabaya. Pada angkatan ke-2 ini, sebanyak 12.000 warga Kota Pahlawan ikut memanfaatkan program tersebut.

Program SOTH besutan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama BKKBN Jawa Timur ini, merupakan sekolah pengasuhan untuk meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengasuh balita. Hal ini juga menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas hubungan keluarga sehingga diharapkan dapat menekan angka stunting di Kota Pahlawan.

Oleh karena itu, Pemkot Surabaya memberikan pembekalan kepada para pengelola SOTH di tingkat RW atau yang kini dikenal sebagai Balai Orang Tua Hebat, di Graha YKP Surabaya, Selasa (11/6/2024). Dalam kesempatan ini, materi pembekalan itu diberikan kepada pengelola SOTH dan para penyuluh KB (Keluarga Berencana).

Mewakili Ketua TP PKK Kota Surabaya Rini Indriyani, Ketua Bidang Pokja 1 TP PKK Kota Surabaya Shinta Setia mengatakan, kehadiran SOTH diharapkan agar para orang tua bisa mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi cerdas secara spiritual dan sosial, serta kuat secara emosional.

“Kami berharap pembekalan ini tidak menjadi ajang menimba ilmu saja, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan inspirasi,” kata Shinta Setia.

Ia melanjutkan, pembekalan kali ini adalah memberikan keterampilan dan pengetahuan, agar para pengelola SOTH dapat mendampingi orang tua di lingkungan RW masing-masing dengan lebih baik. “Selesai acara ini, juga harus tetap mengupgrade pengetahuan dalam hal parenting karena teknologi terus berkembang,” imbuhnya.

Shinta Setia menerangkan, terdapat beberapa materi yang diberikan kepada para pengelola SOTH. Antara lain, Perlindungan Anak, dan Memahami Konsep Diri yang Positif dan Konsep Pengasuhan.

Karenanya, pelaksanaan SOTH di Kota Surabaya telah dilengkapi dengan kurikulum pendidikan, silabus, pemetaan instruktur, rencana kegiatan pembelajaran, perangkat monitoring, jurnal, absensi peserta, hingga absensi pengelola.

“Jadi orang tua bisa memberikan lingkungan yang kondusif bagi anak-anaknya untuk berkembang. Sebab, kita ingin menghasilkan generasi yang tangguh,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk (DP3A-PPKB) Kota Surabaya, Ida Widyawati mengatakan, pembekalan ini adalah gelombang kedua. Pada gelombang pertama, telah diberikan kepada para pengelola SOTH dengan sasaran 500 titik Balai Orang Tua Hebat. Dan saat ini menyasar para pengelola SOTH di 500 titik Balai Orang Tua Hebat berikutnya.

“Peserta antara pembekalan gelombang pertama dan kedua berbeda. Kita menyasar 1.000 Balai Orang Tua Hebat. Dan kalau di total, orang tua yang mengikuti SOTH tahun 2024 ini ada 12.000 orang lebih,” kata Ida.

Ida menjelaskan, dalam setiap kelas SOTH, terdiri dari 30 peserta dimasing-masing Balai Orang Tua Hebat. Dari hasil pelaksanaan SOTH angkatan ke-1, banyak testimoni positif dari peserta. Yakni, hasil dari pemberian materi dapat diaplikasikan dengan baik di lingkungan keluarga.

“Setelah mengikuti SOTH, peserta mengaku banyak melakukan perubahan pola asuh di keluarganya. Tidak hanya kepada anaknya, tetapi cara berkomunikasi dan bersikap kepada suaminya pun ada perubahan yang lebih baik,” pungkas Ida. (B4M)

Curanmor Resahkan Warga, Wali Kota Eri Bahas Upaya Penanganan Bersama Forkopimda dan RT/RW

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memberikan perhatian serius terhadap maraknya aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Karenanya, pemkot berencana menggelar pertemuan bersama Kepolisian, RT/RW dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Surabaya untuk membahas solusi komprehensif dalam mengatasi curanmor.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan, pihaknya berkoordinasi dengan jajaran kepolisian terkait rencana pertemuan dengan perwakilan RT/RW dan Forkopimda. Pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan solusi komprehensif dalam mengatasi curanmor di Kota Pahlawan.

“Jadi nanti insyaallah kita akan membuat pertemuan dengan seluruh perwakilan RT/RW, juga dengan kepolisian, sama Forkopimda untuk bagaimana penyelesaiannya,” kata Wali Kota Eri Cahyadi, Selasa (11/6/2024).

Namun, Wali Kota Eri juga menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga lingkungan tempat tinggal mereka. Menurut dia, kemiskinan dan kurangnya rasa empati antar warga, bisa menjadi faktor pendorong terjadinya aksi curanmor.

“Karena apa, semakin banyak kemiskinan, maka akan terjadi hal itu. Ini kota besar, ada (warga) yang dari luar-luar itu masuk,” ujar Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) periode 2023-2025 tersebut.

Wali Kota Eri menyadari, untuk mencegah aksi pencurian kendaraan bermotor, tidak bisa hanya mengandalkan pengawasan dari jajaran kepolisian. Namun, kepedulian antar warga terhadap lingkungan, juga berperan penting dalam mencegah aksi kejahatan jalanan.

“Contoh di kampung, masa kita suruh masuk kampung. Berarti maksudnya itu di kampung tetap kita jaga bersama, tapi empati orang kampung juga harus dijaga. Sudah tahu di kampung ada (orang) yang uglak-uglik (jebol) pagar, dibiarkan. Itu berarti kan Pancasila kita tidak berjalan,” jelas dia.

Wali Kota Eri pun meyakini, dengan menerapkan konsep Kampung Madani, maka angka kejahatan jalanan seperti curanmor dapat dicegah atau ditekan. Sebab, di dalam Kampung Madani, warga mengedepankan gotong-royong untuk menciptakan lingkungan yang aman.

“Inilah yang saya hidupkan dengan Kampung Madani. Kampung Madani itu bukan hanya memberi bantuan kepada yang tidak mampu di kampung tersebut, tapi bagaimana menciptakan lingkungan aman dan nyaman,” terangnya.

Selain itu, ia menegaskan bahwa koordinasi dengan jajaran kepolisian juga akan dilakukan untuk memperkuat pengamanan di luar kawasan perkampungan.

“Selain itu kami juga koordinasi dengan kepolisian untuk jaga yg di luar perkampungan. Jadi beban kita terbagi, insyaallah begitu,” tandasnya. (B4M)

Kadin Surabaya Soroti Minimnya Sosialisasi Sertifikasi Halal untuk Pelaku Usaha

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Surabaya menyampaikan keprihatinannya terkait implementasi sertifikasi halal yang dinilai masih belum optimal. Berdasarkan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, setiap produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di Indonesia wajib memiliki sertifikat halal. Namun, hingga saat ini, sosialisasi mengenai kewajiban ini masih dirasa belum maksimal di kalangan pelaku usaha.

Ketua Kadin Surabaya H. M. Ali Affandi La Nyalla M. Mattalitti menegaskan bahwa sebagai organisasi yang menaungi dunia usaha, Kadin Surabaya berkomitmen untuk mengadvokasi dan membantu pelaku usaha dalam proses mendapatkan sertifikasi halal. “Kami menyadari bahwa kepatuhan terhadap regulasi ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan konsumen dan meningkatkan daya saing produk di pasar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mas Andi, sapaan akrab Ali Affandi, menyorot sosialisasi mengenai kewajiban sertifikasi halal belum dilakukan secara maksimal. “Banyak pelaku usaha yang masih kurang memahami proses, persyaratan, dan manfaat dari sertifikasi halal. Untuk itu, Kadin Surabaya siap memberikan dukungan penuh melalui program advokasi dan pendampingan kepada pelaku usaha. Langkah-langkah konkret yang akan diambil meliputi sosialisasi, bimbingan teknis, hingga bantuan administrasi untuk memudahkan proses sertifikasi halal,” ungkapnya.

Di samping kurangnya sosialisasi kewajiban sertifikasi halal, rendahnya implementasi sertifikasi halal juga diakibatkan pelaku usaha yang tidak menyadari banyak keuntungan lain dari produk yang sudah tersertifikasi halal. “Sertifikasi halal membuka peluang pasar yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun internasional. Produk bersertifikat halal memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan, khususnya di negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim,” tambah Mas Andi.

Tidak hanya berjalan sendiri, Kadin Surabaya akan menggandeng pihak-pihak terkait agar sertifikasi halal bisa dilakukan secara lebih intensif, ekstensif, dan komprehensif. “Kami akan bekerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), dan instansi pemerintah terkait untuk memastikan proses sertifikasi berjalan efisien dan transparan,” tegas Ali Affandi.

Kadin Surabaya juga memberikan perhatian khusus kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan menyediakan fasilitas dan pendampingan khusus agar UMKM dapat memenuhi kewajiban sertifikasi halal dengan lebih mudah.

Implementasinya, Kadin Surabaya telah membentuk posko yang membantu UMKM untuk mengurus sertifikasi halal. Mulai dari awal menyusun persyaratan administrasi hingga verifikasi oleh LPH. Ke depan, jika animo semakin bagus, UMKM Halal Center perlu segera dibentuk disebagai wujud keseriusan pencanangan implementasi sertifikasi halal untuk UMKM.

Sosialisasi, lanjutnya, harus terus dilakukan, bisa dengan mengadakan penyuluhan atau workshop. Jika perlu diadakan semacam studi banding atau factory visit ke perusahaan yang sudah tersertifikasi halal, agar UMKM bisa lebih mengerti tentang penilaian dalam proses sertifikasi.

“Dengan langkah-langkah ini, Kadin Surabaya berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam mempercepat implementasi sertifikasi halal dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Kota Surabaya,” pungkas Ali Affandi. (B4M)

Wali Kota Eri Cahyadi Ajak Gen Z Surabaya untuk Ikut Musrenbang Pemuda Kelurahan

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengajak seluruh generasi Z (Gen Z) di Surabaya untuk mengikuti musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) pemuda di tingkat kelurahan. Ia yakin, adanya Musrenbang Pemuda Kelurahan ini bisa membawa perubahan untuk Kota Surabaya ke depannya.

Wali Kota Eri Cayadi mengatakan, Musrenbang Pemuda Kelurahan itu nantinya dapat menyaring aspirasi atau impian anak-anak muda, terutama pada Gen Z di Surabaya.

“Dadi mulai saiki, sopo sing wani ngetokno pendapate. Sopo sing wani, ngusulno opo sing digawe arek nom-nomane Suroboyo di gawe tahun 2045, iku isok dadi pemimpin. (Jadi mulai sekarang, siapa yang berani mengutarakan pendapatnya. Siapa yang berani mengusulkan apa yang diinginkan anak-anak muda Surabaya di tahun 2045, itu bisa menjadi pemimpin),” kata Wali Kota Eri, Selasa (11/6/2024).

Wali Kota Eri menyebutkan, Musrenbang Pemuda Kelurahan ini nantinya akan digelar secara bergiliran, di seluruh kelurahan di Surabaya. Maka dari itu, ia meminta kepada seluruh anak muda di Surabaya untuk berani menyampaikan usulan yang bermanfaat untuk pembangunan Kota Surabaya melalui Musrenbang Pemuda Kelurahan.

“Kalau dulu musrenbang yang diusulkan itu paving, dan urusan (fasilitas) lainnya. Nah, sekarang Musrenbang Pemuda ada (untuk anak muda), kalau sudah ada seperti itu, ayo ikut di kampungnya masing-masing, nanti ditulis inginnya apa, nanti dibuat apa,” sebut Wali Kota Eri.

Wali kota yang akrab disapa Cak Eri Cahyadi itu menerangkan, di masa kepemimpinannya sampai saat ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah menyediakan berbagai wadah untuk anak muda. Itu disiapkan agar anak muda di Surabaya berani mengusulkan pendapatnya di hadapan publik.

Dirinya yakin, setelah usulan-usulan dari anak muda atau Gen Z itu dikumpulkan, pasti akan ada suatu hal yang bermanfaat untuk pembangunan Kota Surabaya ke depannya. “Karena itu salah satunya untuk meningkatkan perkembangan anak, maka dari itu ada Forum Anak Surabaya (FAS). Setelah ini yang akan dijadikan tempat pemuda itu adalah THR, itu saya bentuk karena Musrenbang Pemuda,” ujarnya.

Ia berharap, dengan adanya Musrenbang Pemuda Kelurahan, akan semakin banyak pemuda Surabaya yang terlahir sebagai pemimpin di tahun 2045.

“Karena Gen Z ini akan menjadi pemimpin di tahun 2045, sehingga mereka harus memiliki mental yang luar biasa, semangat yang luar biasa, dan tidak menjadi Gen Z Stroberi,” pungkasnya. (B4M)

Ini Kata Pengamat, Terkait Program Wali Kota Eri Satu Rumah Satu Sarjana

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Selama tiga tahun terakhir, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah menggelontorkan Rp138 miliar untuk program Beasiswa Pemuda Tangguh. Program ini menjadi bagian dari program Satu Rumah Satu Sarjana yang diperuntukkan bagi para mahasiswa yang masuk dalam kategori keluarga miskin.

Pengamat dan pemerhati pendidikan anak dari Lembaga Perlindungan Anak Jawa Timur, Isa Ansori mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya dengan gerakan dan program Satu Rumah Satu Sarjana.

“Ini menandakan keseriusan pemkot untuk membantu peningkatan kualitas SDM masyarakat Kota Surabaya. Utamanya mereka yang berada dalam kategori keluarga kurang mampu,” kata Isa Ansori, Senin (10/6/2024).

Menurut Isa, langkah pemkot ini harus menjadi gerakan bersama masyarakat, terutama para stakeholder di dunia industri dan usaha. Sebab, kata dia, merekalah yang kelak menikmati peningkatan kualitas SDM tersebut.

“Gerakan gotong royong bersama, mewujudkan program tersebut adalah wujud kolaborasi dan sinergisitas yang merupakan karakter masyarakat Surabaya,” tegas Isa.

Isa berpendapat bahwa pendidikan dan peningkatan kualitas SDM, merupakan upaya memotong mata rantai kemiskinan. Makanya, ia mendukung penuh program Satu Rumah Satu Sarjana yang digagas Wali Kota Eri.

“Surabaya telah menunjukkan teladannya. Kini, giliran kita untuk menyebarkan semangat humanisme dan membangun Indonesia yang lebih adil dan sejahtera,” imbuhnya.

Selain itu, Isa juga menilai jika program Satu Rumah Satu Sarjana lebih dari sekadar bantuan finansial. Program ini adalah wujud nyata investasi masa depan bangsa. “Dengan menaruh perhatian pada pendidikan generasi muda, Surabaya menanam benih-benih kemajuan yang akan membawa perubahan positif bagi kota ini,” katanya.

Data Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbuporapar) Kota Surabaya mencatat, sampai tahun ini tak kurang dari 10.000 pemohon yang mengajukan program beasiswa pemuda tangguh. Sementara ini, pemerintah kota telah mengintervensi 3.100 mahasiswa dan akan menjadi 3.500 di akhir tahun 2024. “Tentu dibutuhkan lagi effort agar semua anak dan generasi muda Surabaya terlayani dan terfasilitasi kebutuhan peningkatan kualitas SDM nya,” jelas Isa.

Tantangan untuk maju bagi generasi muda atau Gen Z, telah disampaikan Wali Kota Eri Cahyadi pada acara kelas inspirasi yang diadakan di Graha Unesa, Surabaya, Sabtu 4 Juni 2024. Dalam kesempatan itu, ia mendorong Gen Z di Kota Pahlawan untuk berani bermimpi dan gigih meraihnya meski menghadapi berbagai tantangan.

“Raihlah sebuah mimpi, Gen Z jangan mager atau malas. Gen Z tidak boleh menunggu, tapi bagaimana punya mimpi dan mengejar mimpi,” ujar Wali Kota Eri.

Bagi dia, generasi muda itu harus memiliki mental petarung dan tidak boleh menyerah. Sebab, mental petarung dan pantang menyerah, adalah kunci dalam meraih kesuksesan.

“Ketika mencoba mewujudkan mimpi dan gagal, jangan berhenti. Teruslah berusaha sampai meraih keberhasilan,” pungkasnya. (B4M)

Dukung Kebijakan Pemerintah Pusat, Pemkot Surabaya Awasi Pembelian LPG 3 Kg

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Pemerintah Pusat mulai memberlakukan kebijakan pembelian liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram atau gas melon dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) per 1 Juni 2024. Kebijakan ini dilakukan agar pengguna LPG 3 Kg tepat sasaran.

Menanggapi kebijakan tersebut, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan dukungannya. Ia menegaskan bahwa subsidi LPG 3 Kg harus tepat sasaran dan hanya dinikmati oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

“Saya sepakat, semua subsidi itu adalah untuk orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Wong sugih, ojok jaluk subsidi (Orang kaya jangan minta subsidi),” kata Wali Kota Eri, Senin (10/6/2024).

Karena itu, Wali Kota Eri menekankan bahwa masyarakat yang mampu hendaknya membeli LPG 12 Kg. Artinya, bukan memanfaatkan subsidi LPG 3 Kg, yang diperuntukkan bagi rakyat miskin. “Kalau yang mampu, belilah LPG 12 kilogram, tapi yang tidak mampu, belilah 3 kilogram. Tapi kan kadang kita ini, yang mampu memiliki usaha, pakai yang 3 Kg,” ujarnya.

Wali Kota Eri pun mengimbau masyarakat agar sadar akan kemampuan dan saling membantu. Baginya, sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat mampu membantu yang tidak mampu. “Kalau yang mampu, bantulah yang tidak mampu. Jangan sampai bantuan pemerintah untuk orang miskin tidak tepat sasaran,” kata Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ini.

Untuk memastikan kebijakan LPG 3 Kg di Surabaya berjalan, Wali Kota Eri menegaskan, bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan melakukan pengawasan terhadap penjualan.

“Kita lakukan (pengawasan) nanti. Semua penjual LPG nanti harus membuat laporan untuk siapa saja yang beli 3 Kg. Karena kalau untuk kepentingan umat, ya kita mesti tegak lurus,” tegas dia.

Wali Kota Eri pun menegaskan komitmen Pemkot Surabaya untuk menegakkan kebijakan pembelian LPG 3 Kg demi kepentingan rakyat. “Kami dari pemerintah punya prinsip jangan sampai bantuan kami tidak tepat sasaran,” imbuhnya.

Ia menyadari bahwa kebijakan dari pemerintah pusat ini mungkin akan menuai kritik dari sebagian pihak. Namun apabila kebijakan ini tidak diterapkan dengan tegas, maka yang berdampak adalah masyarakat miskin.

“Tapi kadang kalau ditertibkan, kita (pemerintah) dibilang tidak pro rakyat. Rakyat yang mana? Yang miskin kan kasihan. Kalian yang mampu (kaya) jangan nemen-nemen (terlalu), belilah 12 kg,” pungkasnya. (B4M)

 

Pemkot Surabaya Tertibkan KK Bermasalah, Fokus Tanggulangi Kemiskinan

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengambil langkah tegas dalam menertibkan administrasi kependudukan (adminduk) untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan. Salah satu fokus utama adalah menindaklanjuti temuan banyaknya rumah yang dihuni puluhan Kartu Keluarga (KK).

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa langkah ini dilakukan untuk memastikan akurasi data dan mendukung program kesejahteraan masyarakat. Karenanya pemkot mengambil kebijakan satu persil tanah maksimal 3 diisi Kartu Keluarga (KK).

“Pemkot mengambil kebijakan 1 persil itu adalah 3 KK, sambil kita lihat jumlah jiwanya berapa. Dengan 3 KK tadi, kami bisa konsentrasi menyelesaikan kemiskinan. Kami bisa membantu sekolahnya sampai kuliah,” kata Wali Kota Eri, Minggu (9/6/2024).

Wali Kota Eri pun mempertanyakan kelayakan rumah berukuran 3×4 meter yang menampung 3 KK berisi 12 jiwa. Dimana rumah tersebut seharusnya memiliki ruang tamu, ruang makan, dan ruang tidur.

“Tipe 45, itu paling kecil. Kalau sekarang 3×4 meter itu rumah atau bukan, itu pertanyaannya. Berarti kan kos-kosan. Nah dalam kos-kosan itu ada yang sampai 50 KK, kemudian mau tidur di mana dia,” ujarnya.

Untuk itu, pemkot membatasi satu persil rumah maksimal diisi 3 KK. Hal ini dilakukan untuk memastikan intervensi yang diberikan pemkot tepat sasaran dan merata kepada keluarga yang benar-benar membutuhkan. “Dengan 3 KK tadi, kami bisa konsentrasi menyelesaikan kemiskinan,” jelasnya.

Selain itu, Wali Kota Eri juga menegaskan bahwa pemkot memprioritaskan bantuan sosial untuk warga asli Surabaya yang tinggal di Kota Pahlawan. “Kalau sekarang 1 rumah 50 KK, terus semua nunut (menumpang), sekolahnya pemkot yang bayarin. Nah orang asli Surabaya yang tinggal di Surabaya nasibnya gimana?” tanya dia.

Karena itu, Wali Kota Eri menyatakan bahwa pemkot mengambil langkah tegas dengan mendobrak sistem yang memungkinkan satu rumah dihuni puluhan KK. “Ini yang saya lakukan untuk orang Surabaya. Kalau ternyata dia mau masuk KK (Surabaya), dia harus bikin surat pernyataan tidak menerima bantuan,” tegasnya.

Di samping itu, Wali Kota Eri juga melarang warga memecah KK dalam satu rumah hanya karena bertujuan ingin mendapatkan bantuan sosial. “Misalkan aku yang nikah, aku ikut rumah orang tua. Setelah itu aku pecah KK. Lho kalau pecah KK dari orang tua di dalam rumah itu, pemkot mengontrol untuk pemberian bantuan itu gimana,” ujarnya.

Menurut dia, pecah KK hanya bertujuan untuk mendapatkan bantuan, akan membuat pendataan menjadi tidak akurat. Di samping itu juga hal ini akan menyulitkan penyaluran bantuan yang tepat sasaran.

“Pendekatan-pendekatan akan saya lakukan dengan cara berbeda. Dia pecah KK, dalam satu rumah dua sampai tiga KK tapi minta bantuan semua, ini kan jadi berat,” jelasnya.

Oleh sebabnya, ia menegaskan bahwa warga yang ingin mendapatkan bantuan sosial harus terdaftar dalam satu KK yang benar-benar sesuai dengan jumlah penghuni rumah.

“Saya bilang kalau minta bantuan semuanya ya masukan di sini (1 KK). Jadi saya bisa tahu dalam satu KK ada berapa jiwa, sentuhannya gimana, sehingga (tahu) dia (pendapatan) dapat berapa juta dalam 1 bulan,” katanya.

Maka dari itu, Wali Kota Eri menegaskan bahwa Pemkot Surabaya tidak akan memberikan intervensi bantuan kepada warga yang memiliki KK bermasalah. “Tapi kalau pecah KK dalam satu rumah, tak kasih syarat, jangan minta bantuan. Alhamdulilah tidak ada yang mau. Ternyata pecah KK untuk minta bantuan tambah kacau,” sebutnya.

Ia memastikan bahwa pemkot berkomitmen untuk menertibkan adminduk dan membantu warga Surabaya yang benar-benar membutuhkan. “Jadi kalau masuk (pindah KK) Surabaya jangan sembarangan, kasihan wargaku yang asli Surabaya, yang belum tak bantu ketabrak sama yang baru-baru masuk,” pungkasnya. (B4M)

Lomba ‘Judes Pegiat Usaha Mandiri’, Meniti Jalan Ganda dalam Dunia Media dan Bisnis

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Bertepatan memperingati Hari Jadi Kota Surabaya ke-731, Kelompok Kerja Jurnalis Dewan Surabaya (Judes) menggelar lomba video kreatif ‘Judes Pegiat Usaha Mandiri’. Lomba ini diikuti oleh para wartawan berbagai media yang tergabung di dalam Pokja Judes, yang selain berprofesi sebagai wartawan juga memiliki Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Dalam lomba video kreatif ‘Judes Pegiat Usaha Mandiri’ ini, para pemenang lomba dinilai melalui Viewer terbanyak yang video profil usahanya telah tayang di Channel Youtube Judes : http://www.youtube.com/@judesindonesia1

Sedangkan para pemenang lomba mendapatkan piagam sertifikat penghargaan sebagai Pemenang Lomba Video Kreatif ‘Judes Pegiat Usaha Mandiri’, yang ditandatangani langsung oleh Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono, S.IP.

Dalam kesempatannya, Adi Sutarwijono mengatakan mengapreasiasi para wartawan yang memiliki Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) diluar profesinya. Namun Adi Sutarwijono juga selalu mengingatkan, agar profesionalisme sebagai wartawan harus tetap terjaga. Mengingat, kehadiran wartawan juga sangat penting di dalam pilar demokrasi.

“Wartawan yang memiliki usaha sampingan UMKM untuk memperkuat ekonomi keluarga itu bagus. Tapi profesionalisme sebagai wartawan harus selalu tetap terjaga,” katanya, Jum’at (07/06/2024).

“Selain kemandirian usaha, saya pun yakin masih banyak wartawan yang memiliki jiwa entrepreneur dan saya mengapreasiasi,” imbuh Adi Sutarwijono yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pokja Judes Maulana mengatakan, di dalam era dimana kestabilan finansial semakin menjadi tantangan bagi banyak wartawan untuk menemukan jalan lain mencari pendapatan tambahan dengan membuka usaha mandiri.

Di balik tuntutan berita yang tak kenal waktu, banyak juga wartawan menemukan kesempatan untuk mengembangkan bakat kewirausahaan mereka sambil tetap berada dalam dunia media yang dinamis.

“Sebagai seorang jurnalis, tugas utama mereka adalah menggali dan menyampaikan berita kepada masyarakat. Namun banyak dari mereka yang juga memiliki minat dan keahlian di luar bidang tersebut. Beberapa di antara mereka memanfaatkan keahlian menulis dan jaringan yang luas untuk memulai bisnis konsultasi atau penulisan lepas,” jelasnya.

“Ada pula yang menekuni dunia fotografi, desain grafis, atau produksi video sebagai sumber pendapatan tambahan,” tambahnya.

Disamping itu, Ahmad Hilmi Nidhomudin selaku Ketua Panitia ‘Judes Pegiat Usaha Mandiri’ mengatakan, selain memeriahkan HJKS ke-731, acara ini juga untuk menunjukan bahwa seorang wartawan juga bisa menjadi pelaku usaha.

“Meskipun bisa menjadi pelaku usaha, tapi menjadi seorang wartawan memang adalah panggilan hati. Semoga lomba ini dapat digelar lagi di tahun berikutnya untuk memeriahkan HJKS ke-731,” ujarnya.

Sementara itu, Bambang Hadi Marwanto salah satu wartawan yang tergabung dalam Pokja Judes dari peserta lomba yang memiliki keahlian usaha memperbaiki dinamo ampere dan stater kendaraan roda 4 mengatakan, bahwa wartawan yang memiliki usaha lain memberikan keuntungan finansial yang signifikan.

“Wartawan yang memiliki usaha lain memberikan keuntungan finansial yang signifikan. Selain itu, juga memberikan kebebasan kreatif yang lebih besar dan peluang untuk menjelajahi minat pribadi di luar dunia jurnalistik,” kata Bambang yang juga bergabung di AWS (Aliansi Wartawan Surabaya) Propinsi Jawa Timur sebagai Sekretaris.

Namun, lanjutnya tantangan muncul ketika harus menyeimbangkan antara dua peran yang berbeda dengan jadwal yang padat dan tenggat waktu yang ketat. Menurutnya, wartawan yang menjelajahi dunia kewirausahaan menunjukkan bahwa ada lebih dari satu jalan untuk meraih kesuksesan.

“Dengan menggabungkan keterampilan jurnalistik dengan semangat kewirausahaan, mereka tidak hanya dapat mencapai stabilitas finansial, tetapi juga menggali potensi penuh dari bakat dan minat mereka,” pungkasnya. (Red)

Wali Kota Eri Ajak 8 ribu Gen Z di Surabaya Berani Wujudkan Mimpi

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengajak 8 ribu anak muda di Kota Pahlawan berani untuk meraih mimpi-mimpinya. Hal tersebut diungkapkan oleh Wali Kota Eri Cahyadi ketika menghadiri kegiatan “Gen Z Suroboyo Beraksi dan Menginspirasi” di Graha Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Lidah Wetan, Sabtu (8/6/2024).

Wali Kota Eri Cahyadi mengatakan, sebagai generasi penerus bangsa atau Gen Z, harus berani memiliki mimpi dan diwujudkan. “Jangan hanya bertanya mencari pekerjaan apa kemudian meminta kepada pemerintah, itu bukan Gen Z. Jadi kalau ingin menjadi orang yang berhasil, bermimpilah kamu, raih lah mimpi itu dengan usaha, bukan hanya diam saja, setelah gagal lalu hanya menunggu,” kata Wali Kota Eri.

Dalam kegiatan ini, juga hadir Wakil Wali Kota Surabaya Armuji, Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa Arie Rukmantara ini, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Rini Indriyani. Tak hanya itu, juga ada tiga bintang tamu yang dihadirkan sebagai narasumber, yakni presiden Gen Z Rian Fahradi, Elsa Japasal, dan konten kreator Jerome Polin.

Menurut Wali Kota Eri, sosok Jerome, Rian, Elsa patut dicontoh dan dijadikan semangat bagi Gen Z di Kota Surabaya untuk bangkit dan berani mewujudkan mimpi-mimpinya. Karena menurutnya, mewujudkan cita-cita tidak hanya datang dari diri sendiri, akan tetapi juga harus ada tempat yang mewadahi kreativitas atau bakat dari anak-anak muda ini.

Karena Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memiliki beberapa hal yang dapat dijadikan tempat untuk mewujudkan mimpi anak-anak muda. Seperti pelatihan-pelatihan untuk mengasah softskill, Job Fair, hingga musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) pemuda di tingkat kelurahan.

“Maka di dalam setiap muskel (musyawarah kelurahan) itu (pemuda) diajak untuk (mewujudkan) apa yang kamu inginkan. Tidak menunggu lagi ingin bekerja di pemerintahan apa, tidak seperti itu. Tapi bagaimana pemerintah hadir memberikan apa yang mereka mau, sehingga menjadi jembatan untuk meraih keberhasilan mereka,” tuturnya.

Ia berharap, dengan adanya program-program yang dimiliki Pemkot Surabaya saat ini, Gen Z sebagai generasi penerus di tahun 2045 bisa memiliki mental dan semangat yang lebih baik lagi. “Saya harap tidak akan ada lagi Gen Z stroberi di Surabaya, dengan maka akan semakin hilang, atau bahkan tidak ada lagi Gen Z stroberi di Surabaya,” harapnya.

Di samping itu, Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa Arie Rukmantara mengatakan, agar Gen Z di Surabaya menjadi generasi penerus bangsa yang handal, maka harus ada pola asuh yang baik dari orang tua. Menurutnya pola asuh terhadap anak sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya di kemudian hari.

Maka dari itu, Arie mengingatkan, orang tua harus tahu bagaimana melindungi anak-anak di dalam sebuah rumah tangga. “Karena parenting itu bukan nature born skil (bakat sejak lahir), akan tetapi ilmu yang harus dipelajari oleh orang tua. Artinya harus dipelajari, nah seperti ini sudah ada di Kota Surabaya, seperti Puspaga, Sinau Bareng, dan lain sebagainya,” kata Arie.

Di kesempatan ini, Arie juga menyampaikan pesan penting bagi seluruh Gen Z di Kota Surabaya untuk menyongsong Indonesia Maju di 2045. Tiga pesan itu diantaranya adalah, jangan gagap, jangan gugup, dan tertinggal.

“Indonesia siap-siap menjadi negara maju, karena (Gen Z) siap-siap menjadi pemimpin negara maju. Artinya yang dipimpin bukan hanya Indonesia, akan tetapi yang dipimpin adalah dunia. Sebagai negara terbesar ke-4 di dunia secara ekonomi, jangan ragu untuk memimpin dunia,” pesannya.

Yang kedua, jangan sampai kesejahteraan bangsa Indonesia turun di tahun 2045. Maka dari itu, ia berharap Gen Z di Kota Surabaya harus mengantisipasi hal tersebut. Yang ketiga, ia berharap, para Gen Z bisa mempertahankan posisi Indonesia sebagai negara terbesar ke-4 di dunia secara ekonomi.

“Jadi negara terbesar di dunia secara ekonomi yang tidak mencintai perang, menyukai sesama (manusia), dan mencintai sesama, serta toleransi. Karena toleransi dan keberagaman adalah modal dari indonesia,” pungkasnya. (B4M)