Arsip Kategori: KESEHATAN

Tingkatkan Kesehatan Gigi dan Mulut, Polres Kediri Kota Bersama Biddokkes Polda Jatim Gelar Dental Fitness

LENSA PARLEMEN – KEDIRI KOTA,
Tingkatkan kesehatan gigi dan mulut Polres Kediri Kota bekerjasama dengan Biddokkes Polda Jawa Timur mengadakan dental fitness pemeriksaan gigi dan mulut bagi anggota Polres Kediri Kota, Selasa (28/05/2024).

Kegiatan pemeriksaan gigi dan mulut dipimpin Kaur Yankes Biddokes Polda Jatim penata Ni Made Parwati, S.KM. bersama tim pemeriksa Iptu drg. Asri Dewanthi Kegiatan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut ini di ikuti 91 Personel Polres Kediri Kota

Menurut drg.Asri Dewanthi pemeriksaan dental fitness atau pemeriksaan gigi dan mulut harus dilakukan setiap enam bulan sekali. selain rutin mengunjungi dokter gigi.

Kata Asri, anggota polisi juga diminta rutin menjaga kesehatan sehingga tidak menjadi penyebab utama timbulnya rasa gelisah.

“Memang kebanyakan orang takut untuk periksa ke dokter gigi, padahal itu sangat penting untuk dilakukan demi menjaga kesehatan gigi dan mulut. Sebenarnya dengan rutin memeriksa, kita akan selalu sehat dan terhindar dari gangguan kerusakan gigi dan mulut,” terang Asri.

Kegiatan dental fitness ini bertujuan, sambung Asri, untuk mengetahui kondisi dan status dental fitness pada anggota Polri dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi serta dukungan kesiapan tugas operasional dan deteksi dini terhadap kerusakan atau kelainan jaringan gigi dan mulut

Sehingga, kata Asri, dengan cepat datang ke dokter akan segera dapat dilakukan berbagai upaya pencegahan yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. “Ini sangat penting sekali bagi personil polisi,” ungkapnya

Sementara itu, Kapolres Kediri Kota AKBP Bramastyo Priaji, S.H., S.I.K., M.Si. mengatakan selain melakukan pemeriksaan gigi dan mulut, anggota jajaran Polres Kediri Kota juga bisa berkonsultasi dengan tim pemeriksa jika punya sejumlah keluhan terhadap gigi dan mulut.

Dua hal itu sangat urgen dilakukan, papar Kapolres demi kelancaran menjalankan tugas seorang personil polisi saat melayani masyarakat.

“Kalau sering sakit gigi, pelayanan bisa sedikit terganggu. Makanya rutin melakukan pemeriksaan mulut dan gigi,” pungkasnya. (Red)

Pemkot Surabaya Tingkatkan Antisipasi Resiko Penularan DBD 

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi terhadap resiko penurunan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Pahlawan. Terutama saat memasuki masa transisi, yakni musim penghujan ke musim kemarau yang masih belum stabil.

Hal ini menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Walikota Surabaya Nomor 400.7.9/3135/436.7.2/2024 tentang Antisipasi Peningkatan Kasus Demam Berdarah Dengue pada musim penghujan. Karenanya, Pemkot Surabaya menerbitkan SE Nomor 400.7.9/8786/436.7.2/2024 tentang Peningkatan Kewaspadaan DBD melalui PSN 3M PLUS.

Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Ikhsan mengatakan sebagai antisipasi menekan resiko penularan DBD secara masif di Kota Surabaya, maka diperlukan kegiatan pendampingan intensif dalam memberantas vektor penularan penyakit DBD dengan melaksanakan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) DBD 3M PLUS.

“Yaitu, menguras dan menyikat bersih bak mandi/kolam air minimal satu minggu sekali. Menutup rapat tempat penampungan air, misalnya tempayan, tandon, dan drum. Serta, memanfaatkan/mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air,” kata Ikhsan, Jumat (17/5/2024).

Sedangkan, 3M PLUS adalah meliputi penggantian air vas bunga, tempat minum burung atau tempat-tempat lainnya yang sejenis setiap satu minggu sekali, memperbaiki saluran dan talang yang tidak lancar/rusak, menutup lubang-lubang pada potongan bambu/pohon, serta menaburkan bubuk pembunuh jentik (larvasida) di tempat-tempat yang sulit dikuras atau di daerah yang sulit air.

“Memelihara ikan pemakan jentik di kolam/bak-bak penampungan air, misalnya ikan cupang dan ikan kepala timah. Memasang kawat kasa di jendela dan pintu rumah, membiasakan pengaturan barang dalam ruangan secara rapi agar tidak menjadi tempat bersarangnya nyamuk, dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar,” ujar dia.

Kemudian, lanjut Ikhsan, mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai, menggunakan kelambu pada saat tidur, memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk, melakukan penanaman tanaman yang tidak disukai nyamuk seperti tanaman serai, lavender. Serta membersihkan lingkungan dari sarang nyamuk.

“Menggiatkan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) secara rutin dengan menunjuk juru pemantau jentik di setiap rumah/ instansi untuk memantau dan memastikan tidak ada jentik dan memastikan nilai Angka Bebas Jentik (ABJ) > 95 persen di masing-masing wilayah,” imbuhnya.

Oleh karena itu, diharapkan melakukan kegiatan PSN 3M PLUS berbasis kecamatan, kelurahan, RT/RW, sekolah, tempat ibadah, perkantoran, dan tempat-tempat umum (TTU) secara rutin minimal satu minggu sekali setiap hari Jumat di masing-masing wilayah.

“Kemudian melaporkan seluruh hasil kegiatan PSN 3M PLUS melalui Aplikasi Sayang Warga (ASW) dan memantau progres capaian untuk segera dilakukan intervensi wilayah, sehingga potensi penyebaran kasus DBD dapat terus terkendali,” pungkasnya. (B4M)

Pengembangan Teknologi Alat Kesehatan, Solusi Percepatan Pelayanan di Rumah Sakit

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus berupaya melakukan percepatan pelayanan kesehatan di Kota Pahlawan. Bahkan, pemkot tak segan-segan memberikan ganti rugi senilai Rp50.000 kepada warga, jika terjadi keterlambatan dalam proses pelayanan kesehatan di puskesmas maupun rumah sakit yang dinaungi oleh Pemkot Surabaya.

Oleh sebab itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memberikan dukungan terhadap perkembangan ilmu kedokteran. Salah satunya adalah menyediakan layanan unggulan di RSUD Soewandhie guna mempercepat pelayanan kesehatan di rumah sakit.

“Kami menyediakan alat kesehatan (alkes) yang canggih sehingga pelayanan jauh lebih cepat. Jadi, kami mendukung penuh terhadap perkembangan ilmu kedokteran, serta rumah sakit yang ada di Surabaya,” kata Wali Kota Eri, di  Welcome Dinner Surabaya Hospital Expo 2024 di Halaman Balai Kota Surabaya, Rabu (15/5/2024) semalam.

Di samping itu, dengan adanya percepatan pelayanan kesehatan di RSUD Soewandhie maupun di RSUD Bhakti Dharma Husada, ia sangat bersyukur lantaran sudah tidak ada lagi keterlambatan pelayanan.

“Saya bangga dengan pelayanan kedokteran yang ada di Kota Surabaya. Warga menyampaikan ke saya, mereka berterima kasih karena pelayanan kesehatan di RSUD Soewandhi dan BDH sudah luar biasa dan tidak ada keterlambatan,” ungkapnya.

Apalagi, di tahun 2024 ini, Kota Surabaya terpilih sebagai lokasi perhelatan event nasional bertajuk Surabaya Hospital Expo di Grand City Mal Surabaya. Acara yang digelar muli 14-19 Mei 2024 itu turut serta meramaikan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-731.

“Saya semakin bangga karena ada perhelatan Hospital Expo yang digelar di Surabaya. Ini menjadi tantangan, sekaligus penyemangat di Kota Surabaya untuk berkolaborasi dan bersinergi dalam bidang kesehatan dengan siapapun,” terangnya.

Adapun layanan unggulan yang dipamerkan oleh RSUD Soewandhie dalam gelaran Surabaya Hospital Expo adalah EVLA (Endovenous Laser Ablation), Ortodhonty, Layanan Vaksin, Minimal Invasive Surgery, Cath Lab Hybrid, ESWL, Haemorroidoplasty, dan yang paling istimewa adalah layanan Radioterapi Stereotactic.

“Layanan Radioterapi Stereotactic adalah salah satu alat kesehatan (alkes) canggih yang dimiliki oleh RSUD Soewandhie. Di Indonesia hanya dimiliki oleh 5 rumah sakit saja, salah satunya dimiliki oleh RSUD Soewandhie. Sedangkan empat rumah sakit lainnya merupakan rumah sakit milik TNI. Luar biasanya lagi, layanan ini bisa digunakan juga untuk pasien BPJS,” jelas dia.

Wali Kota Eri berharap, Hospital Expo yang digelar di Surabaya akan menambah pemahaman masyarakat tentang kesehatan. Selain itu, terdapat pula layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat.

“Ketika ada Hospital Expo di Surabaya, maka ilmunya yang dibagikan dalam kegiatan tersebut sangat berharga untuk warga Surabaya,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) wilayah Jawa Timur, dr. Hendro Soelistijono menyampaikan bahwa perhelatan Hospital Expo di Kota Surabaya diikuti oleh 700 peserta. Ratusan peserta itu tidak hanya berasal dari Pulau Jawa saja, melainkan ada pula peserta yang ikut berpartisipasi dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Terima kasih atas dukungan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi beserta jajarannya karena kami sudah difasilitasi. Penghormatan yang luar biasa dari seluruh peserta Hospital Expo 2024 bagi Kota Surabaya. InsyaAllah kami akan senantiasa bekerja sama, berkolaborasi, dan berkoordinasi,” pungkasnya. (B4M)

Pemkot Surabaya Bersama PERSI Gelar Surabaya Hospital Expo di Grand City, Pamerkan Alkes hingga Layanan

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Perhimpunan Rumah Sakit seluruh Indonesia (PERSI) akan menggelar Surabaya Hospital Expo di Grand City Kota Surabaya, pada 14-19 Mei 2024. Kegiatan Surabaya Hospital Expo ini turut meramaikan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-731.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina mengatakan bahwa gelaran Surabaya Hospital Expo merupakan kegiatan pameran industri kesehatan, mulai dari alat kesehatan (alkes) hingga layanan unggulan rumah sakit.

Pameran Layanan Unggulan Rumah Sakit ini akan digelar di Main Atrium Grand City Mall Surabaya, pada 14-19 Mei 2024. Sedangkan, Pameran Alkes Internasional akan digelar di Exhibition Hall Grand City Convex Surabaya, pada 15-17 Mei 2024.

“Rangkaian kegiatan yang ada dalam Surabaya Hospital Expo adalah membahas isu-isu penting tentang perumahsakitan. Terutama agar rumah sakit tetap mengedepankan mutu pelayanan dan keselamatan pasien,” kata Nanik, Senin (13/5/2024).

Nanik menjelaskan, Hospital Expo merupakan kegiatan rutin tahunan oleh PERSI yang berskala nasional. Hingga tahun 2024 telah terlaksana sebanyak 18 kali. Karenanya, kali ini Kota Surabaya terpilih menjadi pelaksanaan Hospital Expo ke-18 dengan tema ‘Mewujudkan Layanan Unggulan Rumah Sakit Melalui Pengembangan Sumber Daya’.

Rangkaian kegiatan dalam gelaran Surabaya Hospital Expo ke-18, di antaranya adalah seminar kesehatan untuk rumah sakit, lomba antar rumah sakit, pameran layanan unggulan masing-masing rumah sakit, hingga kegiatan edukasi kesehatan masyarakat dalam bentuk ‘Health Talk’ yang ditampilkan dari masing-masing peserta rumah sakit.

“Dalam kegiatan Seminar Nasional Perumahsakitan dan Surabaya Hospital Expo ke-18, PERSI Jawa Timur juga mengadakan workshop yang terdiri dari delapan materi untuk meningkatkan kemampuan rumah sakit, dalam menyusun strategi layanan unggulan rumah sakit,” jelasnya.

Delapan materi workshop yang akan disajikan dalam Surabaya Hospital Expo, yakni Workshop Studi Kelayakan Bisnis dan Monitoring Evaluasi Layanan Unggulan, Workshop Pelaksanaan Audit Klinis Berbasis RME untuk Kendali Mutu dan Kendali Biaya di Rumah Sakit, Workshop Strategi Menuju Hospital Tourism sebagai Layanan Unggulan Rumah Sakit, dan Workshop Memaksimalkan Profit Rumah Sakit Berdayakan Manajemen Operasional.

“Ada pula, Workshop Pengembangan Rencana Strategi Rumah Sakit untuk Pelayanan Unggulan (Strategi Competitive Advantage), Workshop Strategi Rumah Sakit dalam Implementasi Rekam Medik Elektronik (RME), Workshop Penyusunan Renstra Keperawatan di Rumah Sakit, dan Workshop Penyusunan Code of Conduct dan Hospital by Law Rumah Sakit,” terangnya.

Selain itu, Surabaya Expo Hospital ke-18 turut melibatkan sejumlah organisasi kesehatan. Mulai dari  Perhimpunan Rumah Sakit seluruh Indonesia (PERSI),  Majelis Kehormatan dan Etik Rumah Sakit Indonesia (MAKERSI), Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), dan Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (ARSADA).

“Kegiatan ini dihadiri oleh rumah sakit di Jawa Timur, serta produsen-produsen alkes dari dalam, maupun luar negeri,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, masyarakat diharapkan bisa ikut berpartisipasi dengan menghadiri kegiatan tersebut. Sebab, terdapat berbagai kegiatan untuk mendukung pemahaman masyarakat tentang kesehatan. Bahkan, terdapat layanan pemeriksaan kesehatan secara gratis.

“Kami menganjurkan masyarakat untuk hadir karena terdapat kegiatan Health Talk, guna meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Kesehatan. Masyarakat juga bisa mengikuti pemeriksaan kesehatan secara gratis oleh rumah sakit yang mengikuti pameran,” pungkasnya. (B4M)

Gelar Sub PIN Polio Putaran Kedua, Ketua TP PKK Rini Indriyani Targetkan 100.000 Lebih Imunisasi per Hari

LENSA PARLEMEN – SURABAYA
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menggelar Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio serentak di 31 Kecamatan, Senin (19/2/2024). Pelaksanaan Sub PIN Polio kali ini, adalah putaran yang kedua untuk anak usia 0-8 tahun kurang satu hari di Kota Surabaya.

Digelarnya SUB Pin Polio putaran kedua ini adalah untuk melengkapi imunisasi Polio yang diselenggarakan pada putaran pertama, 15-21 Januari 2024 lalu. Berdasarkan surat edaran (SE) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Nomor: 400.7.7.2/2763/436.7.2/2024, Sub PIN Polio putaran kedua akan digelar selama seminggu, mulai 19-25 Februari 2024.

Pada pelaksanaan Sub PIN Polio kali ini, dipantau secara langsung oleh Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani. Di kesempatan ini, ia meninjau mengunjungi pelaksanaan Sub PIN Polio di Posyandu Rosella di Balai RW 10, Kelurahan Ploso Timur, Kecamatan Tambaksari.

Pada pelaksanaan Sub PIN Polio kali ini, dipantau secara langsung oleh Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani. Di kesempatan ini, ia meninjau mengunjungi pelaksanaan Sub PIN Polio di Posyandu Rosella di Balai RW 10, Kelurahan Ploso Timur, Kecamatan Tambaksari.

Ketua TP PKK Rini Indriyani berharap, Sub PIN Polio Putaran kedua ini bisa mencapai target 100.000 lebih dalam sehari. Ia mengatakan, Sub PIN Polio putaran pertama, sebelumnya bisa sampai melebihi target 100.000 dalam sehari.

“Saya berharap semua anak-anak di Kota Surabaya wajib untuk mengikuti Polio. Karena kita melihat dari efeknya apabila terkena Polio, dia bisa lumpuh seumur hidupnya, maka dari itu jika (imunisasi) sudah ikut, yang kedua juga harus ikut. Kalau yang pertama dapat, kemudian yang kedua nggak dapat, nanti nggak maksimal,” kata Rini.

Rini menyampaikan kepada seluruh orang tua untuk tidak perlu khawatir atau ragu dengan imunisasi Polio ini. Sebab imunisasi ini aman bagi anak, dan baik untuk mencegah terjadinya kelumpuhan terhadap anak akibat penyakit Polio.

Istri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi itu menjelaskan, efek dari Polio akan berdampak buruk bagi anak, kalau tidak dilakukan pencegahan sejak dini. Karena bila terjangkit, maka anak akan mengalami kelumpuhan total. Tentunya, kelumpuhan itu akan akan berdampak tidak baik bagi masa depan anak-anak di Kota Surabaya.

“Ini gejalanya cukup cepat ya, langsung lumpuh itu. Terkadang, orang tua itu tidak sadar, dianggapnya penyakit biasa, padahal efeknya adalah dia lumpuh. Kalau sudah lumpuh, tidak bisa disembuhkan, itu lah yang kita hindari, kita cegah,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina mengatakan, Sub PIN Polio putaran kedua ini akan menyasar sebanyak 329.616 anak usia 0-8 tahun kurang satu hari. Target itu sama seperti pada saat pelaksanaan Sub PIN Polio putaran pertama.

Nanik menjelaskan, Sub PIN Polio putaran kedua akan dimaksimalkan dalam satu hari ini, tujuannya untuk mempercepat pemutusan transmisi KLB Polio VDPV2. Di hari pertama Sub PIN Polio putaran kedua, Pemkot Surabaya akan menyasar pos sekolah dan Balai RW per kelurahan.

“Untuk sasaran di sekolah-sekolah jumlahnya 123.928 anak. Petugas puskesmas, guru UKS, Guru Sekolah, dan mahasiswa turut kami gerakkan untuk bertugas di sekolah-sekolah,” jelas Nanik.

Selain sekolah, lanjut dia, Dinkes Surabaya juga menyasar anak balita dan yang belum sekolah, melalui Posyandu di Balai RW. Total sasaran non sekolah ada 205.688 orang. “Kami juga mengerahkan petugas puskesmas, petugas kecamatan dan kelurahan, TP PKK, Kader Surabaya Hebat (KSH), hingga mahasiswa. Jadi satu tim ada 2-3 orang yang terdiri dari vaksinator dan administrator yang menghandle 3-4 pos,” ujarnya.

Nanik menambahkan, jumlah sasaran pada pelaksanaan Sub PIN Polio putaran pertama lalu melampaui target sasaran 329.616, yakni mencapai 346,890 anak usia 0-8 tahun kurang sehari. Menurutnya, capaian itu tidak lepas dari kerja keras jajaran perangkat daerah (PD), Kecamatan, dan Kelurahan di seluruh wilayah Kota Surabaya. Tak hanya itu, peran serta Kader Surabaya Hebat (KSH), Tim Penggerak (TP) PKK, hingga mahasiswa dari perguruan tinggi juga diperhitungkan.

Ia menambahkan, pemkot melalui Dinkes Surabaya juga menggiatkan strategi sweeping (penyisiran) Sub PIN Polio. Penyisiran ini dilakukan di berbagai tempat, mulai dari pos pelayanan imunisasi Balai RW, Kelurahan, sekolah-sekolah, pondok pesantren, tempat-tempat umum (TTU), stasiun kereta api, terminal, mal, daycare, hingga door to door ke rumah warga.

“Berbagai upaya telah dilakukan secara masif, bersama kecamatan, kelurahan, TP PKK, KSH, RT/RW dan civitas akademika yang terlibat dalam tim Sub PIN Polio Kota Surabaya,” pungkasnya. (B4M)

Pemkot Surabaya Lakukan Langkah Antisipasi Cegah Munculnya Pneumonia Misterius

Lensa Parlemen I SURABAYA
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya melakukan sejumlah langkah antisipasi dalam mencegah munculnya Pneumonia misterius di Kota Pahlawan. Karenanya, pemkot mengimbau masyarakat untuk mewaspadai Pneumonia misterius.

“Untuk kasus di Kota Surabaya, sampai dengan saat ini belum ada laporan terkait temuan kasus yang diduga karena Pneumonia misterius,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina, Kamis (7/12/2023).

Meski belum ditemukannya kasus Pneumonia misterius di Kota Surabaya, Nanik menjelaskan sejumlah langkah antisipasi yang dilakukan oleh Dinkes Kota Surabaya, di antaranya mengeluarkan Surat Edaran (SE) kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) se-Kota Surabaya agar meningkatkan upaya komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat terkait perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin dengan pendekatan.

“Meningkatkan kewaspadaan dini, serta meningkatkan standar dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi di seluruh Fasyankes terutama terhadap kasus yang dicurigai Pneumonia,” jelasnya.

Tak hanya sampai di situ, Dinkes Kota Surabaya juga terus menyebarluaskan informasi terkait kewaspadaan terhadap penyakit Pneumonia misterius dan pentingnya Imunisasi Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) dalam program Imunisasi Nasional yang diberikan sebanyak 2 (dua) kali pada usia 2-11 bulan  dan 1 (satu) kali pada usia 12-24 bulan sebagai upaya pencegahan penyakit Pneumonia melalui Fasyankes di masing-masing wilayah.

“Menghimbau kepada Fasyankes untuk melaporkan setiap penemuan kasus yang dicurigai Pneumonia misterius ke Dinas Kesehatan Kota Surabaya dalam waktu kurang dari 24 jam,” ujar dia.

Oleh karena itu, ia menghimbau kepada masyarakat, apabila seseorang yang mempunyai riwayat perjalanan ke negara/wilayah terjangkit dan mempunyai gejala sakit Pneumonia, seperti batuk kering atau berdahak, demam >38 derajat celcius, sesak nafas, nyeri dada ketika bernafas, kelelahan, nafsu makan menurun, mual, muntah, dan diare, untuk segera melapor dan berobat ke Fasyankes terdekat.

“Kami juga melakukan pemantauan perkembangan kasus dan negara terjangkit di tingkat global melalui website resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yaitu https://kemkes.go.id/,” pungkasnya. (B4M)

Kendalikan HIV, Pemkot Surabaya Perluas Layanan dan Masifkan Skrining

Lensa Parlemen I SURABAYA
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus melakukan berbagai upaya dalam pengendalian HIV (Human Immunodeficiency Virus)/AIDS (ODHA) di Kota Pahlawan, seperti melakukan perluasan layanan hingga memasifkan skrining. Sebagai upaya pengendalian, Kota Surabaya terus konsisten dan masif dalam kegiatan skrining HIV terhadap seluruh kelompok populasi berisiko, baik ber-KTP Surabaya maupun KTP Non-Surabaya, tanpa membedakan status kependudukan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina mengatakan, Kota Surabaya telah melakukan perluasan layanan testing HIV melalui 122 layanan. Di antaranya pada 63 puskesmas, 57 rumah sakit, dan 2 klinik utama.

“Sedangkan, untuk pemberian layanan dukungan, perawatan dan pengobatan (PDP) HIV juga telah tersebar di 52 layanan di 38 puskesmas, 13 rumah sakit, dan 1 klinik utama,” kata Nanik, Jumat (1/12/2023).

Dalam kondisi normalisasi layanan testing HIV pasca Pandemi COVID-19 pada fasilitas pelayanan kesehatan, Nanik menjelaskan bahwa kasus HIV dapat ditemukan sejak dini dan segera ditatalaksana melalui pengobatan sesuai standar. Kepatuhan dalam mengkonsumsi obat ARV bagi pasien terinfeksi HIV turut di pantau dan dikawal dengan ketat.

“Kota Surabaya terus memperluas jejaring kemitraan dengan menggandeng komunitas peduli HIV agar dapat mendukung dan berkolaborasi bersama dalam upaya pencegahan, serta pengendalian penularan HIV di Kota Surabaya berbasis wilayah,” jelasnya.

Total penemuan kasus HIV di Kota Surabaya sampai dengan bulan Oktober 2023 sebanyak 1.122 kasus. Distribusi kasus HIV berdasarkan status kependudukan menunjukkan KTP Surabaya sebesar 600 (53,47 persen) dan KTP Non-Surabaya sebesar 522 (46,52 persen). Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terjadi peningkatan penemuan kasus HIV sebesar 27 (tahun 2022 : 827 kasus).

“Akan tetapi, berdasarkan status kependudukan menunjukkan bahwa penemuan kasus dengan KTP Surabaya pada tahun 2023 mengalami penurunan sebesar 17,39 persen dibandingkan tahun 2022,” ungkapnya.

Sedangkan, gambaran distribusi kasus HIV anak pada rentang usia ≤14 tahun sebanyak 7 kasus. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi penurunan sebanyak 1 kasus. Indikasi terjadinya risiko penularan HIV pada anak, disebabkan oleh kurangnya kepatuhan minum obat ARV bagi ibu yang telah terinfeksi HIV karena tidak adanya dukungan dari pasangan (keluarga), serta ketidakberdayaan seorang istri terhadap permasalahan kesehatannya.

“Sebagai upaya pengendalian, Surabaya terus konsisten dan masif dalam kegiatan skrining HIV terhadap seluruh kelompok populasi berisiko, tanpa membedakan status kependudukan,” tegasnya.

Meski demikian, Dinkes Kota Surabaya tiada henti-hentinya melakukan berbagai upaya dalam mencegah dan mengendalikan HIV di Kota Pahlawan. Mulai dari melakukan kampanye penyebarluasan informasi pencegahan dan penularan HIV bagi pelajar, membentuk petugas penjangkau untuk melakukan edukasi dan skrining HIV pada kelompok beresiko dengan sasaran waria, lelaki seks dengan lelaki, pengguna narkoba suntik (Penasun), serta pekerja rumah hiburan umum (RHU).

“Kami melakukan pemeriksaan HIV secara mobile/bergerak menyasar pada RHU dan tempat-tempat yang diduga sebagai hotspot (lokasi) kelompok beresiko. Selanjutnya, melakukan layanan testing HIV yang di fasilitas oleh layanan kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit pemerintah dan swasta, maupun klinik utama,” ujarnya.

Tak hanya itu, Dinkes Kota Surabaya terus melakukan pemeriksaan Early Infant Diagnosis bagi bayi usia minimal 6 minggu. Pihaknya juga melakukan skrining HIV secara rutin setiap 3 bulan sekali bagi perilaku kelompok berisiko penularan virus HIV. Pemberian pengobatan ARV Test and Treat juga diberikan secara gratis, serta memperluas akses pengobatan HIV pada puskesmas dan rumah sakit.

“Kami membentuk pendamping sebaya dari komunitas ODHIV di wilayah kerja untuk memberikan support psycho-sosial. Selain itu, kami juga memberikan dukungan PMT bagi ODHIV untuk mempertahankan kondisi kesehatan dan meningkatkan imunitas, pendampingan, konseling dan kunjungan rumah (home care) untuk memperkuat kondisi psikologis pasien,” lanjutnya.

Dinkes Kota Surabaya juga berkolaborasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain di lingkup Pemkot Surabaya dalam penanganan permasalahan kependudukan, seperti kebutuhan Akte dan Kartu Keluarga (KK).

“Penguatan kelompok dukungan sebaya (KDS) melibatkan ibu hamil HIV dan anak-anak dengan HIV juga terus dilakukan. Penguatan konseling oleh dokter atau psikolog di layanan HIV baik bagi pasien, pasangan pasien, dan keluarga juga demikian,” pungkasnya. (B4M)

RSUD Dr. Soewandhie Ubah Skema Antrean Pasien Untuk BPJS Kesehatan

Lensa Parlemen I SURABAYA
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus berupaya meningkatkan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat, mulai dari pelayanan pendidikan, perizinan, hingga pengurusan administrasi kependudukan (Adminduk). Peningkatan pelayanan itu, untuk mewujudkan Surabaya Hebat (Humanis, Efektif dan Efisien, Berakhlak, Akuntabel, dan Transparan).

Dalam mewujudkan Surabaya Hebat, Pemkot Surabaya turut meningkatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit (RS) hingga Puskesmas. Salah satunya, yakni peningkatan pelayanan antrean untuk pasien di RSUD dr. Soewandhie.

Direktur Utama RSUD dr. Soewandhie, dr Billy Daniel Messakh mengatakan, antrean pasien di RSUD dr. Soewandhie akan diatur ulang. Pengaturan ulang antrean pasien ini, bertujuan untuk mencegah terjadinya penumpukan pasien yang mendaftar menggunakan BPJS Kesehatan.

“Jadi ada perubahan pendaftaran pasien BPJS Kesehatan yang menggunakan fingerprint. Fingerprint ini, berfungsi untuk mendeteksi identitas diri pasien,” kata Billy, Senin (27/11/2023).

Billy menjelaskan, perubahan skema antrean ini adalah bagian dari evaluasi RSUD dr. Soewandhie untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat, terutama bagi pasien yang mendaftar menggunakan layanan BPJS Kesehatan. Setelah dilakukan survey, dia menyampaikan, ada temuan di lapangan. Beberapa pasien yang datang tidak sesuai dengan nomor urut antrean, sehingga menyebabkan penumpukan di RSUD dr. Soewandhie.

“Nah, kita sudah pelajari hari ini, ternyata ada banyak pasien yang nomornya (antrean) besar datangnya di pagi hari, harusnya kan datang itu sesuai dengan nomor antrean, sesuai yang tertera di kartu pendaftarannya,” ujar Billy.

Billy menegaskan, mulai Selasa (28/11/2023) pagi, jika masih ada pasien yang datang tidak sesuai dengan jadwal antrean, maka tidak akan diperbolehkan untuk masuk dan tidak dilayani terlebih dahulu. Mulai sore ini, lanjut dia, RSUD dr. Soewandhie sedang menyiapkan ruang tunggu khusus bagi pasien BPJS Kesehatan.

“Tempatnya di luar, hari ini kita siapkan. Nah, setelah dia (pasien) mendaftar lewat satu pintu, maka boleh masuk. Mengapa perlu finger? Karena untuk memudahkan pendataan antara rumah sakit dengan BPJS Kesehatan,” tegasnya.

Dia melanjutkan, bagi pasien BPJS Kesehatan yang belum pernah mendaftar di RSUD dr. Soewandhie, akan diminta mendaftar terlebih dahulu di tempat pendaftaran pasien BPJS. “Kita akan atur sedemikian rupa, dan juga akan kita bantu daftarkan,” jelasnya.

Dirinya mengungkapkan, pendaftaran antrean BPJS Kesehatan menggunakan fingerprint tidak hanya mempermudah pendaftaran pasien saja, akan tetapi juga untuk mengantisipasi adanya penyalahgunaan kartu BPJS Kesehatan. Dari hasil temuan di lapangan, dia mengungkapkan, BPJS Kesehatan menemukan ada beberapa pasien yang menggunakan kartu BPJS pasien lain untuk berobat.

“Hasil evaluasinya BPJS ada sekian persen, saya tidak tahu pastinya berapa. Ada yang menggunakan kartu BPJS yang bukan miliknya untuk berobat. Nah, dengan fingerprint ini akan teratasi,” ungkapnya.

Apabila ada pasien yang berobat menggunakan kartu BPJS orang lain untuk berobat, maka pasien tersebut tidak akan bisa dilayani. “Karena ini (pendaftaran fingerprint) regulasi dari BPJS untuk kita. Selain itu untuk mengidentifikasi pasien BPJS atau tidak,” terangnya.

Dia menambahkan, RSUD dr. Soewandhie juga memiliki sistem yang sama seperti BPJS Kesehatan. Apabila ada pasien rujukan dari Puskesmas, maka data diri pasien tersebut secara otomatis terdaftar, terintegrasi melalui sistem data pasien di RSUD dr. Soewandhie.

“Puskesmas akan membuatkan surat rujukan elektronik, sehingga dia (pasien) sudah nggak bawa kertas, itu sudah ada di layar monitor yang tertera nama-nama pasien. Nah, ketika pasien datang di hari itu, dengan fingerprint ini maka bisa segera dilayani,” pungkasnya. (B4M)

Labkesda Surabaya buka Layanan Laboratorium Klinik dan Kesehatan Lingkungan Serta Layanan Home Care

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,
UPTD Laboratorium Daerah (Labkesda) Kota Surabaya tak hanya menyediakan pelayanan pemeriksaan spesimen di Laboratorium Klinik, tetapi juga menyediakan pelayanan Laboratorium Kesehatan Lingkungan. Tarif di UPTD Labkesda Surabaya pun sangat terjangkau dengan hasil pemeriksaan dapat diperoleh di hari yang sama.

Berlokasi di Jalan Gayungsari Barat No. 124-A Kota Surabaya, UPTD Labkesda Surabaya membuka pelayanan setiap Senin hingga Sabtu mulai pukul 07.00 – 21.00 WIB. Serta dapat dikunjungi oleh masyarakat dengan membawa identitas diri, maupun membawa surat permintaan pemeriksaan.

Tak hanya itu saja, apabila pasien memiliki keterbatasan, UPTD Labkesda Surabaya juga menyediakan layanan Home Care, yakni, memberikan layanan kesehatan dengan mendatangkan tenaga medis ke rumah pasien. Pembayaran pemeriksaan pun dapat dilakukan secara non tunai atau cashless.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina mengatakan bahwa biaya pemeriksaan di UPTD Labkesda Surabaya berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2010 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kota Surabaya. UPTD Labkesda Surabaya dapat melakukan pemeriksaan spesimen dari manusia berupa darah, urine, sputum, dan cairan tubuh lainnya baik melalui swab atau metode lainnya.

“Selain itu, Labkesda mampu melakukan pemeriksaan sampel untuk mendukung kesehatan lingkungan berupa, sampel air, makanan, minuman, udara ruang, dan limbah,” kata Nanik, Selasa (26/9/2023).

Nanik lantas menjelaskan, Laboratorium Klinik UPTD Labkesda Surabaya menyediakan layanan pemeriksaan di bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi klinik, parasitologi klinik, imunologi klinik, patologi klinik, dan bidang lain yang berkaitan dengan kepentingan kesehatan perorangan terutama untuk menunjang upaya diagnosis penyakit dan penyembuhan penyakit

Jenis pelayanan yang tersedia Laboratorium Klinik, di antaranya Hematologi, Kimia Klinik, Mikrobiologi Klinik, Parasitologi Klinik, Imunologi Klinik, Patologi Klinik, Bakteriologi, Parasitologi, Narkoba dan Toksikologi, Urinalisa, Pemeriksaan Biomolekuler (PCR), Crosschecker sediaan TBC, hingga ECG (rekam jantung).

“Kami juga memiliki fasilitas penunjang berupa laboratorium Biosafety Level 2 (BSL-2), serta alat Kesehatan yang sesuai, seperti Photometer Automatic, Centrifuge, Hematology Analyzer, Urine Analyzer, PCR, dan TCM. Dengan demikian kami berharap masyarakat bisa memperhatikan kesehatannya masing-masing, salah satunya adalah rutin melakukan Medical Check Up karena Labkesda siap memberikan pelayanan prima dengan harga yang terjangkau,” jelasnya.

Sedangkan Laboratorium Kesehatan Lingkungan menyediakan pemeriksaan di bidang mikrobiologi, fisika, kimia, dan bidang lain yang berkaitan dengan kepentingan kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan. Terutama dalam upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan masyarakat.

Jenis pengujian Laboratorium Kesehatan Masyarakat adalah Kimia Air, Kimia Makanan dan Minuman, Kimia Limbah, Mikrobiologi Air Dan Limbah, Mikrobiologi Makanan dan Minuman, Usap Alat, dan Udara Ruang.

“Selama ini Labkesda Surabaya melakukan kontrol kualitas air se-Surabaya, kontrol kualitas limbah di Kimia Limbah. Kita juga melakukan pemeriksaan Mikrobiologi Pangan dan Medis untuk rectal swab,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala UPTD Labkesda Surabaya, Umi Widayati menyampaikan bahwa UPTD Labkesda Surabaya juga menyediakan beragam paket layanan laboratorium klinik yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Seperti paket Medical Check Up, Calon Pengantin (Catin), Ibu Hamil (Bumil), dan  Medical Check Up Internship untuk kepentingan persyaratan internship pendidikan dokter. Serta, paket Kimia Lengkap, selain per parameter juga menyediakan paket Pemeriksaan Kualitas Air.

“Sarana dan prasarana yang ada di Labkesda ini sudah sesuai standar Kemenkes, bahkan ada beberapa pemeriksaan yang sudah melampaui standar itu. Karenanya, masyarakat tidak perlu khawatir, silahkan datang ke Labkesda karena kami siap melayani dari sisi pemeriksaan medis maupun lingkungan dengan standar yang sudah terjamin dan tidak kalah dengan laboratorium swasta,” pungkasnya. (B4M)

RSUD dr M Soewandhie Live Surgery Bedah Tulang, Tunjukan Teknik Operasi Modern dan Canggih

LENSA PARLEMEN – SURABAYA,                         RSUD dr M Soewandhie Kota Surabaya menampilkan teknik operasi dengan menggunakan teknologi canggih dan modern sebagai bagian dari layanan kesehatan untuk meminimalisir resiko. Seperti yang digelar hari ini, RSUD dr M Soewandhie menggelar live surgery atau menampilkan jalannya tindakan operasi secara langsung. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian 11th Annual Meeting of IOSSMA 2023 dengan tema Sport Medicine and Arthroscopy Practice: Comprehensive Approach, Sabtu (23/9/2023).

Direktur Utama RSUD dr M Soewandhie Kota Surabaya, dr Billy Daniel Messakh

Direktur Utama RSUD dr M Soewandhie Kota Surabaya, dr Billy Daniel Messakh menyampaikan bahwa kegiatan 11th Annual Meeting of IOSSMA 2023 adalah agenda tahunan bagi para dokter Ortopedi (bedah tulang) khusus pada bidang cedera olahraga. Mereka berkumpul dan mengadakan sebuah seminar berskala internasional.

Selanjutnya, kegiatan yang berlangsung di Kota Pahlawan itu akan menampilkan tindakan operasi bedah Ortopedi yang diakibatkan cedera akut, kronis, dan trauma. RSUD dr M Soewandhie pun terpilih untuk menampilkan pembaharuan teknik operasi, khususnya pada bidang cedera olahraga.

seminar tahunan yang diadakan oleh para dokter Ortopedi atau dokter bedah tulang yang berkecimpung pada persoalan cedera olahraga. Para tamu atau dokter yang datang dari luar Indonesia diundang untuk saling bertukar dan memperbaharui ilmu pengetahun pada bidang cedera olahraga.

“Selain memiliki ruang operasi yang sesuai, serta sarana dan prasarana yang memadai, RSUD dr M Soewandhie juga memiliki alat-alat yang bisa melaksanakan operasi semacam ini, namanya alat Artroskopi. Yaitu operasi yang menggunakan kamera seperti Endoskopi (pemeriksaan organ tubuh bagian dalam tanpa pembedahan besar) tapi melihat ke dalam persendian, seperti sendi bahu dan lutut,” kata dr Chandra sebagai dokter penanggung jawab asal RSUD dr M Soewandhie.

Ia menjelaskan, persiapan pelaksanaan live surgery itu juga dibantu oleh tenaga medis dan non medis di RSUD dr M Soewandhie sehingga acara ini bisa digelar dan disiarkan secara langsung sebagai sarana untuk mendidik dokter Ortopedi sebagai peserta di 11th Annual Meeting of IOSSMA 2023.

Apalagi, saat ini banyak pasien yang datang ke RSUD dr M Soewandhie yang mengalami cedera olahraga. Salah satunya hari ini, ia bersama tim ia melakukan tindakan operasi memperbaiki ACL atau pembedahan untuk mengangkat ligamen yang robek dari lutut dan menggantinya dengan jaringan baru.

“RSUD dr M Soewandhie sudah banyak kedatangan pasien semacam itu dan harapan ke depan bisa menjadi rujukan untuk cedera olahraga. Kalau untuk tindakan operasi berkisar antara 1-2 jam karena didukung peralatan yang canggih dan tenaga medis yang cekatan. Jadi operasi semacam ini bisa dilakukan secara cepat,” jelasnya.

Teknik operasi yang digunakan pun juga semakin modern dengan menggunakan sayatan atau luka operasi yang ukurannya semakin mengecil. Yakni, menggunakan kamera, selanjutnya memasukkannya ke dalam persendian untuk dilakukan segala tindakan di dalam sendinya.

“Kalau dulu, sendi di bahu harus disayat lebar untuk dilihat dalamnya. Sekarang tidak, sayatannya maksimal 1 cm cukup hanya luka kecil dan kameranya yang masuk, kita lihat dari monitor dan semua dikerjakan dari dalam sehingga lukanya sedikit dan penyembuhannya juga lebih cepat,” ujar dia.

Karenanya, ia menegaskan bahwa RSUD dr M Soewandhie memiliki peralatan medis yang canggih dan terus-menerus diperharaui. Dengan demikian, teknik operasi yang semakin modern akan membuat jalannya operasi semakin cepat, serta luka sayatan yang kecil dengan hasil yang baik.

“Jadi tidak perlu khawatir, kalau dulu luka operasinya besar, sekarang hampir semua bisa menggunakan teknik operasi yang semakin modern,” tandasnya. (B4M)