LENSA PARLEMEN – SURABAYA
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Surabaya yang dimulai pada hari pertama, melibatkan 10 sekolah di dua kecamatan, yakni Wonocolo dan Rungkut. Sebanyak 6.159 siswa menerima manfaat dari program ini, yang bertujuan memberikan asupan gizi yang cukup kepada siswa sekolah. Kecamatan Wonocolo mencatatkan 3.151 siswa yang tersebar di beberapa sekolah, antara lain KB-TM Yasporbi, SD Taquma, SMPN 13, SMAN 10, dan SMK PGRI 1. Sedangkan Kecamatan Rungkut melibatkan 3.008 siswa di sekolah-sekolah seperti TK Tunas Pertiwi, SDN Penjaringan 1, SDN Penjaringan 2, MTs 3, dan MAN Surabaya.
dr. Akmarawita Kadir, Ketua Komisi D DPRD Surabaya, memberikan apresiasi atas kerjasama yang terjalin antara Pemerintah Kota Surabaya (Pemkot) dan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menjalankan program MBG di Surabaya.
“Saya melihat antusiasme yang besar dari para siswa yang menyambut MBG ini dengan gembira. Mereka tidak hanya mendapatkan asupan gizi yang baik, tetapi juga dapat menikmati makan bersama teman-temannya,” ujarnya, Senin, 13/1/2025.
Namun, dr. Akmarawita mengingatkan bahwa program ini perlu diikuti dengan pengawasan yang baik, terutama pada tahap hulu hingga proses, dan tidak hanya fokus pada distribusi makanan di sekolah.
Menurutnya, walaupun distribusi makanan di sekolah sudah cukup teratur, namun banyak aspek yang perlu dipastikan agar program ini berjalan sesuai dengan harapan.
“Sebagai contoh, kita perlu memastikan apakah bahan-bahan makanan yang digunakan sudah tepat sasaran dan diambil dari petani atau nelayan lokal. Proses pembuatan makanan juga harus memenuhi prosedur kesehatan yang sesuai. Kita juga harus memeriksa siapa yang memasak, apakah mereka memiliki sertifikat kesehatan, serta melibatkan pelaku UMKM dalam program ini,” jelas dr.Akmarawita Kadir, Legislator Golkar.

Dengan adanya kerjasama yang solid antara pihak-pihak terkait dan pengawasan yang ketat, diharapkan Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan dengan efektif dan memberikan manfaat yang maksimal bagi para siswa di Surabaya.
Lebih lanjut, dr. Akmarawita mengungkapkan kekhawatirannya terkait dampak program ini terhadap kantin sekolah. Banyak pedagang kantin yang merasa khawatir omset mereka akan menurun akibat pemberian makanan gratis ini. Ia menekankan pentingnya mencari solusi agar program ini tidak menimbulkan dampak negatif yang justru dapat memicu kemiskinan baru.
“Tujuan dari program ini adalah untuk mengurangi kemiskinan, bukan malah menciptakan masalah baru. Oleh karena itu, kerjasama yang baik antara Pemkot dan BGN sangat dibutuhkan untuk memastikan kelancaran pelaksanaan program ini, dari hulu hingga hilir,” pungkas dr. Akmarawita, (B4M)
