LENSA PARLEMEN – SURABAYA
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menunjukkan komitmen kuat terhadap penguatan literasi dengan berpartisipasi dalam peluncuran dan bedah buku perdana Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, E. Aminudin Aziz, bertajuk “Visi Anak Pasar: Catatan Kecil Kehidupan E. Aminudin Aziz”, di Four Points by Sheraton, Jumat (5/12/2025).
Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Lilik Arijanto, mewakili Wali Kota Eri Cahyadi, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk kembali menggerakkan kesadaran literasi bagi generasi muda.
“Partisipasi Pemkot Surabaya bertujuan membuka cakrawala tentang pentingnya literasi. Kami juga mengetahui bahwa Bapak Kepala Perpusnas diakui sebagai satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia dalam bidang AI,” ujar Lilik.
Ia menambahkan, kiprah Aminudin Aziz sebagai tokoh nasional sangat tampak dari perannya dalam mendorong terwujudnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Hal itu diperkuat dengan penggunaan Bahasa Indonesia secara resmi dalam Sidang Umum UNESCO pada 20 November 2023.
Menurut Lilik, minat baca generasi muda saat ini menghadapi tantangan berat, terutama akibat derasnya konsumsi media sosial yang cenderung instan.
“Banjir informasi membuat generasi muda lebih terbiasa berpikir cepat dan dangkal. Ini memengaruhi minat mereka memperluas wawasan secara mendalam,” jelasnya.
Buku “Visi Anak Pasar” dinilai sebagai inspirasi tentang keteguhan, perjuangan, dan integritas dari sosok yang tumbuh di lingkungan pasar namun mampu menapaki posisi strategis di kancah nasional dan global.
Dalam sesi pemaparan, Aminudin Aziz menceritakan latar belakang penulisan bukunya yang berawal dari obrolan keluarga. Ia tumbuh dari keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan, namun dapat menyelesaikan pendidikan hingga jenjang S3 melalui beasiswa negara.
Saat menempuh pendidikan doktor di Australia, ia bahkan sempat berjualan bakso dan menyewakan kamar untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Ia menegaskan tiga pesan utama dalam bukunya:
Anak-anak dari keluarga kurang mampu harus tetap percaya diri dan berjuang pada jalur yang benar.
Kesuksesan tidak lepas dari doa dan dukungan keluarga serta guru.
Anak yang kritis jangan diberi label negatif, karena pemikiran kritis memicu inovasi.
“Semangat perjuangan, optimisme, dan integritas ingin saya sampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya generasi muda,” jelasnya.
Menanggapi kegiatan tersebut, anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PKB, Ais Shafiyah Asfar, yang biasa disapa Ning Ais menyampaikan apresiasinya dan menilai bedah buku ini relevan dengan kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kota besar seperti Surabaya.
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi kemampuan memahami, mengolah informasi, dan membangun cara pikir kritis. Buku ini memberi contoh nyata bahwa perjuangan dan integritas mampu mengangkat seseorang dari kondisi sulit menuju prestasi besar,” ujar Ning Ais, Sabtu (6/12/2025).
Ning Ais menekankan bahwa pemerintah daerah perlu memperluas ruang literasi tidak hanya melalui perpustakaan fisik, tetapi juga melalui program yang mampu menjangkau masyarakat di tingkat kelurahan.
“Surabaya sudah bagus dalam pengembangan rumah baca dan perpustakaan. Namun kita perlu memperkuat ekosistemnya, akses buku, kegiatan literasi, dan pendampingan bagi anak-anak. Jangan sampai literasi hanya menjadi slogan,” tambahnya.
Ia juga menilai pesan Aminudin Aziz, tentang keberanian bermimpi, pentingnya peran orang tua, serta penerimaan terhadap anak yang kritis sejalan dengan kebutuhan karakter generasi Surabaya.
“Ini pesan yang menyentuh. Anak-anak hari ini harus didorong kritis, bukan dibungkam. Dan kita sebagai pemerintah perlu menyediakan fasilitas untuk itu,” tegasnya.
B4M/Lensa Parlemen





