LENSA PARLEMEN – SURABAYA
Peringatan Hari Jadi Kota Surabaya ke-732 menjadi momentum refleksi atas capaian pembangunan, khususnya di sektor ekonomi kerakyatan seperti Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta pariwisata yang terus menunjukkan geliat positif.
Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya dari Fraksi Gerindra, Bagas Imam Waluyo, menyampaikan harapannya agar pemerintah kota terus mendorong pengembangan UMKM dan sektor pariwisata secara berkesinambungan. Menurutnya, kedua sektor tersebut memiliki peran strategis dalam membangun fondasi ekonomi lokal yang inklusif.
“Kami dari DPRD sangat berharap UMKM di Surabaya terus maju dan berkembang merata di seluruh wilayah kota,” ujar Bagas saat ditemui lensaparlemen.id, Senin (2/6).
Ia menekankan bahwa UMKM merupakan tulang punggung ekonomi kerakyatan, sekaligus penopang pertumbuhan ekonomi kota di tengah berbagai tantangan global. Namun demikian, ia juga menyoroti pentingnya perhatian yang lebih besar terhadap sektor pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi lainnya.
“Saya pribadi melihat sektor pariwisata sangat potensial. Kita terus dorong agar destinasi wisata di Surabaya lebih aktif dipromosikan, karena sudah banyak yang berkembang dan layak dijadikan daya tarik utama kota,” tambahnya.
Bagas menyebutkan sejumlah destinasi unggulan yang kini tengah dikembangkan Pemerintah Kota Surabaya, di antaranya kawasan ekowisata Mangrove, Romokalisari Adventure Land, serta destinasi baru seperti Pakal Hutan Off-Road yang baru saja diresmikan oleh Wali Kota Eri Cahyadi. Selain itu, revitalisasi Kebun Binatang Surabaya serta pengembangan kawasan Kota Lama dan terowongan bawah tanah turut menjadi bukti nyata transformasi pariwisata kota.
“Jika dikelola dengan baik, pariwisata akan berdampak langsung terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan yang lebih penting lagi, mampu menggerakkan ekonomi warga sekitar,” jelasnya.
Bagas juga menyoroti pentingnya keterkaitan antara kemajuan pariwisata dan pertumbuhan UMKM. Menurutnya, meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan akan menciptakan efek domino positif bagi pelaku usaha lokal.
“Harus ada sinergi yang kuat. Ketika pariwisata tumbuh, maka UMKM pun akan ikut tumbuh. Para pelaku usaha akan membaca potensi pasar di lokasi wisata, lalu muncul inisiatif berjualan makanan, minuman, hingga produk kerajinan. Itu yang membuat kawasan wisata menjadi hidup dan dinamis,” ujarnya.
Bagas menegaskan, integrasi antara sektor pariwisata dan UMKM bukan hanya soal mendongkrak perekonomian, tetapi juga tentang menciptakan pemerataan ekonomi di berbagai wilayah Surabaya. Dengan strategi yang tepat, ia optimistis kota ini dapat memperkuat basis ekonomi daerah secara berkelanjutan.
“Sinergi antara UMKM dan pariwisata adalah kunci untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan,” pungkasnya. (B4M)





