Selasa, April 21, 2026
BerandaDPRD KOTA SURABAYASiraman Rohani Ramadan, H. Buchori Imron: Momentum Latihan Sabar dan Integritas bagi...

Siraman Rohani Ramadan, H. Buchori Imron: Momentum Latihan Sabar dan Integritas bagi Wakil Rakyat

Surabaya – Lensaparlemen.id
5 Maret 2026 – Anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), H. Buchori Imron, mengajak masyarakat menjadikan bulan suci Ramadan sebagai momentum memperkuat iman, karakter, dan integritas, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan amanah publik.

Menurutnya, Ramadan merupakan bulan istimewa yang hanya hadir setahun sekali dan menjadi sarana latihan spiritual bagi setiap muslim untuk memperbaiki diri.

“Ramadan ini tempat latihan. Latihan sabar, latihan menahan diri, termasuk menahan makan dan minum pada waktu yang telah ditentukan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, esensi puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan melatih ketaatan terhadap aturan Allah SWT. Bahkan hal-hal yang pada dasarnya diperbolehkan dalam agama pun menjadi terlarang ketika waktu berpuasa belum tiba.

“Intinya untuk menguatkan iman dan membentuk karakter agar taat pada aturan yang ada. Aturan Allah itu memang tidak tampak secara kasat mata, tetapi sebagai orang yang beriman dan bertakwa, kita harus meyakini bahwa Allah selalu mengawasi,” tegasnya.

Buchori mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan, yakni kesadaran untuk selalu taat kepada Allah dalam setiap kondisi.

Ia juga menyinggung ayat lain dalam Surat Al-Baqarah yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib…”
(QS. Al-Baqarah: 2–3)

“Allah itu tidak pernah tampak oleh mata kita, tetapi kita yakin seyakin-yakinnya bahwa setiap perbuatan kita selalu dimonitor oleh Allah SWT. Dengan keyakinan itu, meski tidak ada yang menegur atau melihat, kita tidak berani melanggar aturan yang telah digariskan,” ungkapnya.

Buchori mengibaratkan Ramadan sebagai masa pelatihan spiritual yang seharusnya membuahkan hasil nyata setelah bulan suci berakhir.

“Jangan sampai kita sering ikut latihan, tetapi tidak pernah juara. Itu mubazir. Ramadan ini seperti training. Setelah selesai, harus ada hasilnya. Kita harus lebih sabar, lebih jujur, dan lebih disiplin menjalankan aturan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga integritas pasca-Ramadan, terutama bagi pejabat publik yang setiap tindakannya selalu menjadi perhatian masyarakat.

“Kita ini wakil rakyat. Jangan sampai di mata masyarakat justru dinilai lebih buruk. Jangan sampai rakyat melihat kita banyak melanggar aturan. Kalau masyarakat sudah menilai kurang baik, otomatis prestise kita turun,” ujarnya.

Menurut Buchori, nilai-nilai yang dilatih selama Ramadan—seperti kejujuran, kesabaran, dan ketaatan—seharusnya menjadi fondasi dalam menjalankan amanah sebagai pejabat publik.

“Kalau saat puasa saja kita bisa menahan diri dari hal yang sebenarnya halal karena taat pada aturan waktu, maka seharusnya kita juga bisa menahan diri dari hal-hal yang jelas dilarang dalam menjalankan amanah,” jelasnya.

Sebagai kader PPP yang berasaskan Islam dan berlambang Ka’bah, Buchori menegaskan bahwa dirinya memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar untuk menjaga perilaku dan integritas.
“PPP didirikan oleh para ulama,
asasnya Islam, lambangnya Ka’bah.

Maka kami harus lebih waspada dan menjaga diri. Jangan sampai perilaku kita justru mencederai nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan partai,” tuturnya.

Di akhir pesannya, Buchori mengajak seluruh masyarakat memanfaatkan Ramadan sebagai sarana pembentukan karakter yang berkelanjutan, sehingga nilai-nilai yang dilatih selama bulan suci dapat terus terjaga sepanjang tahun.

“Marilah kita berlatih dengan baik. Latih sabar, latih kejujuran, latih ketaatan. Sehingga setelah Ramadan, kita benar-benar menjadi pribadi yang lebih baik, lebih berintegritas, dan mampu berprestasi sesuai aturan yang ada,” pungkasnya. (**)

RELATED ARTICLES
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Most Popular