LENSA PARLEMEN -SURABAYA
Ketua Komisi B DPRD Surabaya, Muhammad Faridz Afif memberikan klarifikasi terkait peristiwa yang menghebohkan beberapa waktu lalu, di mana ada tudingan bahwa Komisi B telah mengusir wartawan saat rapat berlangsung.
Dalam pernyataan yang disampaikan di hadapan wartawan Pokja Jurnalis Dewan Surabaya (Judes), Muhammad Faridz Afif yang biasa disapa Gus Afif menegaskan bahwa tidak ada niatan untuk mengusir wartawan dan menyampaikan permintaan maaf atas peristiwa yang terjadi saat hearing tentang Mangga II (4/3/2025).
Pernyataan tersebut disampaikan Afif saat datang di ruang pressroom, yang didampingi oleh Budi Leksono (ketua fraksi PDI-P dan PAN), usai acara buka bersama dewan dan anak yatim. Sebelumnya, Agoeng Prasodjo yang didampingi oleh Ketua Adi Sutarwijono dan Wakil Ketua Arif Fatoni, selesai mengikuti rapat Paripurna DPRD Surabaya, Senin (10/3/2025).
Afif membuka pernyataannya dengan mengungkapkan permohonan maaf kepada seluruh wartawan Judes yang hadir, serta menjelaskan bahwa tindakan meminta wartawan keluar pada saat rapat bukan bertujuan untuk mengusir.
Afif menyatakan bahwa wartawan yang saat itu meliput di Komisi B pasti tahu kenapa dirinya menyuruh keluar. “Yang menyuruh saya pasti tahu, tak perlu saya sampaikan. Yang jelas, saya ini hanya menghormati anggota- anggota saya.Jadi, saya tak pernah ada niatan mengusir. Tak ada kata-kata mengusir. Saya hanya menyuruh keluar sebentar atau sementara, nanti hasilnya akan kita blow up semua, ” ujar Afif.
Ya, cuma mungkin ketika itu ada wartawan yang tersinggung, maka Afif atas nama Komisi B dengan jiwa besar meminta maaf kepada para wartawan.
“Karena saya ketua, jika ada anggota saya bersalah, ya tetap saya yang bersalah karena yang bertanggungjawab di Komisi B,” ungkapnya.
Karena apa? “Karena saya ingin menyelesaikan beberapa hal yang harus diselesaikan. Apalagi ketika itu sampai ada kata wartawan kongkalikong dengan pengelola Pasar Mangga Dua. Justru kebalik, malah kita yang akan membersihkan Pasar Mangga Dua,” jelas Afif.
Ketika kejadian seperti itu, Afif mengaku tidak meneruskan. Karena dirinya takut nantinya ada perbuatan yang keliru dalam langkah-langkahnya.
“Sebenarnya kemarin itu agar saya tidak salah langkah mas Inyong, ternyata tambah salah langkah karena meminta wartawan untuk keluar sebentar. Saya anggota DPRD baru yang masih menghormati dan menghargai anggota Komisi B yang lama agar saya memperjuangkan anggota yang memberikan saran kepada saya, “tutur dia.
Untuk itu, Afif meminta agar tidak ada lagi pemberitaan mengenai pengusiran wartawan, mengingat bahwa tindakan tersebut diawali oleh salah satu anggota Komisi B.
“Jangan! Tetap yang salah adalah saya sebagai ketua Komisi B, menjadi penanggungjawab anggota Komisi B. Karena itu, sekali lagi saya minta anggota Pokja Judes Legowo nyepuroni kulo, nggeh (berbesar hati menerima maaf saya, ya). Saya tak ada niat apapun, apalagi terbersit di hati saya untuk mengusir. Itu semuanya hal yang tak disengaja,” jelasnya.
Lebih jauh, dia mengakui kenapa pasca kejadian dirinya tidak langsung mendatangi presroom dan meminta maaf, ya karena dirinya ada agenda kunjungan kerja ke Banjarmasin, sebelum rapat tersebut.
Ketika di Banjarmasin, Afif mengaku tak tenang dan terus berdiskusi dengan Budi Leksono. Bahkan, sempat menanyakan perkembangan seputar berita pengusiran yang bikin heboh tersebut.
“Yok opo Ji arek arek (Pokja Judes.red). Sama Pak Buleks dijawab yo kangen karo sampean karena enggak tahu disambangi. Akhirnya, Pak Buleks sepakat mendampingi saya untuk ke presroom,” kata dia.
Akhirnya, Senin (10/3/2025) terjadilah kunjungan ke presroom itu. “Kelihatannya hasil Istikharah seharusnya setelah berbuka puasa. kalau kita datang sebelum berbuka, bicaranya bisa ngelantur.Kalau sudah berbuka puasa begini enak, karena sudah pada kenyang,” tandas dia.
Sementara Ketua Pokja Judes, Inyong Maulana menyatakan persoalan sudah klir. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Gus Afif, dan Budi Leksono telah mengunjungi presroom dengan niat meminta maaf. Artinya, pertemuan ini sebagai jalan keluar bahwa apa yang terjadi kemarin itu, sebenarnya solusinya ya diskusi seperti ini.
“InsyaaAllah teman-teman juga legowo memaafkan dan kami juga mohon maaf kalau dalam setiap liputan di Komisi B ada yang kurang berkenan,” ujarnya.
Menurut Inyong, untuk mengatasi persoalan seperti ini sebenarnya anggota DPRD bisa langsung bicara saja di awal. Karena bahasa teman-teman (Komisi B), itu bahasa pengusiran. Coba menggunakan bahasa-bahasa yang lebih halus, mungkin akan diterima.
“Bagi saya Gus Afif ini sudah tak asing lagi. Karena pada 2018 sudah masuk presroom dan kita kenalkan ke dunia internasional (disambut dengan gelak tawa para pokja judes yang hadir, yang semakin menambah suasana menjadi lebih akrab dan hangat) ” kata Inyong.
Karena itu, Inyong mengaku terkejut ketika mendengar kabar Komisi B mengusir wartawan. Semula dia belum percaya, tapi setelah searching ke teman-teman wartawan, ternyata ada penekanan (pengusiran) seperti itu.
“Tapi setelah klarifikasi dan tabayyun InsyaAllah semua klir dan kita semua kembali bekerja secara profesional menurut bidangnya masing-masin,” pungkas wartawan media Harian Bangsa ini.
Kehadiran mereka (Gus Afif dan Buleks serta Wartawan pokja Judes) di presroom memberi sentuhan keceriaan yang tak terduga, mengubah momen tersebut menjadi lebih berwarna. Keakraban yang tercipta melalui tawa dan canda membuat acara berjalan dengan penuh kehangatan, menciptakan kenangan yang tak terlupakan bagi semua yang terlibat. (B4M)





