Surabaya | lensaparlemen.id
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi memperluas program beasiswa pendidikan secara besar-besaran. Pada tahun 2026, Pemkot menargetkan 24.000 mahasiswa dari keluarga prasejahtera menerima bantuan biaya perkuliahan, melonjak tajam dari sebelumnya hanya sekitar 3.000 penerima.
Kebijakan strategis ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemkot Surabaya dengan 32 perguruan tinggi, terdiri dari 8 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 24 Perguruan Tinggi Swasta (PTS), yang digelar di Lobby Balai Kota Surabaya, Kamis (5/2/2026).
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa program beasiswa ini merupakan wujud nyata implementasi nilai Pancasila dan semangat gotong royong dalam membangun sumber daya manusia unggul di Kota Pahlawan. Ia memastikan jumlah kampus yang terlibat akan terus bertambah secara bertahap.
“Alhamdulillah, hampir seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta hadir hari ini. Sekitar 32 kampus telah menandatangani kerja sama, dan jumlah ini akan terus bertambah ke depan,” ujar Eri Cahyadi.
Menurut Eri, perluasan penerima bantuan pendidikan ini merupakan hasil evaluasi sistem serta kolaborasi erat antara Pemkot Surabaya dan pihak perguruan tinggi. Untuk mendukung kebijakan tersebut, Pemkot menyiapkan anggaran pendidikan sebesar Rp150 miliar hingga Rp200 miliar pada tahun 2026.
“Yang terpenting bukan hanya soal nominal anggaran, tetapi jangkauan manfaatnya. Program ini diprioritaskan bagi keluarga prasejahtera Desil 1 hingga 5, dengan prinsip satu keluarga minimal satu sarjana untuk memutus rantai kemiskinan,” tegasnya.
Eri Cahyadi juga menepis anggapan bahwa perguruan tinggi negeri tidak dapat melakukan perubahan kebijakan akibat keterikatan pada sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang ditetapkan pemerintah pusat.
“Hari ini terbukti, perubahan bisa dilakukan jika niatnya adalah membantu rakyat kecil,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Eri turut menyampaikan permohonan maaf kepada pihak PTN terkait adanya mahasiswa yang mengisi data kondisi ekonomi orang tua tidak sesuai fakta. Ia menegaskan bahwa mahasiswa tersebut tidak boleh kehilangan hak pendidikan.
“Jangan anak-anak ini dihukum. Yang penting mereka tetap bisa kuliah. Soal UKT, biar menjadi tanggung jawab saya,” ujarnya.
Terkait besaran bantuan biaya perkuliahan, Eri menyebut mekanismenya akan disepakati antara Pemkot Surabaya dan masing-masing kampus. Fokus utama, kata dia, adalah memastikan mahasiswa dari keluarga kurang mampu dapat menyelesaikan pendidikan hingga lulus.
“Jangan fokus pada angka. Fokusnya bagaimana anak-anak ini bisa terus kuliah. Kekurangannya kita carikan solusi bersama, melalui kampus, orang tua asuh, atau skema lainnya,” imbuhnya.
Eri yang akrab disapa Cak Eri juga berpesan agar para mahasiswa penerima beasiswa tidak merasa rendah diri.
“Kalian justru harus membuktikan bahwa kalian adalah generasi emas. Belajarlah sungguh-sungguh, siapa tahu kelak ada di antara kalian yang berdiri di sini sebagai Wali Kota Surabaya atau pemimpin bangsa,” pesannya.
Kebijakan ini mendapat dukungan penuh dari kalangan perguruan tinggi. Rektor Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Prof. Nurhasan, menyebut program tersebut sebagai “ide gila yang luar biasa” untuk memutus rantai kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“UNESA siap mendukung penuh, berapapun kuota yang ditugaskan oleh Pak Wali,” tegas Prof. Nurhasan.
Dukungan serupa disampaikan Rektor Universitas Wijaya Putra, Budi Endarto, yang mewakili PTS. Ia menilai kebijakan ini sebagai bentuk redistributive policy sekaligus investasi sosial jangka panjang.
“Dulu bantuan hanya untuk mahasiswa PTN. Sekarang mahasiswa PTS ber-KTP Surabaya juga mendapatkan hak yang sama. Ini adalah social investment yang layak menjadi pilot project nasional,” ujarnya.
Momen haru terjadi saat diperkenalkannya Anisah Wahyu Triska, mahasiswa semester lima jurusan Administrasi Publik di salah satu PTS di Surabaya. Anisah sempat hampir putus kuliah karena keterbatasan biaya dan harus membantu ibunya berjualan penyetan. Melalui program beasiswa ini, Anisah dipastikan dapat melanjutkan pendidikannya hingga lulus.
“Terima kasih atas sinergi Pemkot Surabaya dan seluruh perguruan tinggi. Semoga semakin banyak mahasiswa kurang mampu yang terbantu melalui program ini,” pungkasnya.
Reporter: B4M
Editor: Redaksi Lensa Parlemen





