Kamis, April 30, 2026
BerandaDPRD KOTA SURABAYAKOMISI - DKomisi D DPRD Surabaya Dorong RSUD Dr. Soewandhie Jadi Pusat Layanan Medical...

Komisi D DPRD Surabaya Dorong RSUD Dr. Soewandhie Jadi Pusat Layanan Medical Tourism

LENSA PARLEMEN – SURABAYA
Komisi D DPRD Kota Surabaya menggelar rapat evaluasi Triwulan I Tahun Anggaran 2025 bersama Direksi RSUD Dr. Muhammad Soewandhie. Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Komisi D, dr. Akmarawita Kadir.

Hadir dalam pertemuan ini perwakilan dari Bappedalitbang, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), serta Bagian Pengadaan Barang/Jasa dan Administrasi Pembangunan. Evaluasi tak hanya membahas capaian anggaran dan kinerja rumah sakit, tetapi juga merumuskan strategi pengembangan RSUD Dr. Soewandhie sebagai pusat layanan kesehatan unggulan di Surabaya.

Salah satu poin strategis yang mengemuka adalah potensi pengembangan rumah sakit sebagai bagian dari program medical tourism. Konsep ini dipandang relevan dengan visi besar menjadikan Surabaya sebagai destinasi wisata kesehatan.

Anggota Komisi D, dr. Michael Leksodimulyo, menyampaikan apresiasi atas kinerja pendapatan rumah sakit. Ia menyebut capaian tersebut sebagai “kumlaut” dan menilai RSUD Dr. Soewandhie layak dijadikan percontohan bagi rumah sakit pemerintah lainnya.

“Saya bandingkan dengan daerah lain, pendapatan rumah sakit ini sangat mengesankan. Sekarang, kami ingin tahu arah penggunaan anggaran ke depan, termasuk pengadaan alat kesehatan dan penguatan signature program rumah sakit,” ujarnya, Senin (26/05/2025).

Ia juga menyoroti pentingnya strategi belanja pada Triwulan II, khususnya dalam pengadaan alat kesehatan dan layanan spesifik yang berdampak langsung pada efektivitas penggunaan anggaran.

Sementara itu, anggota Komisi D lainnya, Ajeng Wira Wati, menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan sebagai faktor utama untuk bersaing dengan fasilitas kesehatan swasta. Menurutnya, pelayanan yang prima akan mendorong kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit pemerintah.

“Kita perlu memastikan kualitas pelayanan, agar ketika masyarakat membandingkan dengan rumah sakit swasta, Soewandhie tetap menjadi pilihan,” ungkap Ajeng.

Ketua Komisi D, dr. Akmarawita Kadir, turut mendorong rumah sakit untuk mulai merancang paket layanan medical tourism yang menarik, seperti medical check-up yang dipadukan dengan wisata kota. Ia menyebut bahwa konsep serupa telah sukses diterapkan di negara lain.

“Malaysia sudah lebih dulu dengan paket-paket medical tourism mereka. Surabaya tidak harus meniru sepenuhnya, tapi harus punya penawaran serupa,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama RSUD Dr. Soewandhie, dr. Billy Daniel Mesakh, memaparkan berbagai capaian positif, khususnya peningkatan pendapatan rumah sakit. Ia juga mengungkapkan rencana pendirian Soewandhie Oncology Center sebagai langkah strategis untuk memperluas layanan dan meningkatkan kualitas penanganan kanker.

Namun, dr. Billy juga mengungkap tantangan besar yang dihadapi, terutama terkait regulasi dan skema pembiayaan BPJS. Beberapa aturan saat ini dianggap membatasi ruang inovasi rumah sakit pemerintah.

“Kami sudah punya alat, bahkan jaringan sudah kami siapkan, tapi regulasi saat ini membatasi ruang gerak. Kajian harus kami buat untuk bisa keluar dari keterikatan yang menyulitkan, bukan meninggalkan BPJS, tapi mengimbangi dengan layanan berbayar yang sehat secara finansial,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan brand image rumah sakit dan pemahaman staf terhadap visi serta layanan unggulan yang dikembangkan. “Saya butuh tim yang tidak hanya bekerja, tapi paham produk dan bisa menjelaskan dengan baik. Karena sekarang RS Soewandhie bukan lagi rumah sakit biasa, kita ingin naik kelas,” tambahnya.

Dari pihak Bappedalitbang Kota Surabaya, Puspita Ayuningtyas menyampaikan bahwa 12 rumah sakit di Surabaya telah diusulkan ke Kementerian Kesehatan untuk menjadi penyedia layanan medical tourism. Namun, proses tersebut sempat tertunda karena adanya pergantian pejabat.

“Saat ini kami tinggal menunggu tindak lanjut dari Dirjen Kesehatan Lanjutan. Website medicaltourism.surabaya.go.id juga sudah kami siapkan sebagai sarana promosi,” jelas Puspita.

Lebih lanjut, Puspita juga mengungkapkan bahwa RSUD Dr. Soewandhie telah menjalin kerja sama dengan biro perjalanan wisata untuk memperluas cakupan layanan medical tourism.

“Saat ini, pihak rumah sakit tersebut juga tengah berkoordinasi dengan Dinas terkait untuk memaksimalkan potensi layanan ini,” tambahnya. (B4M)

RELATED ARTICLES
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Most Popular