LENSA PARLEMEN – SURABAYA
Hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya sejak Jumat (14/3/2025) telah menyebabkan sejumlah kawasan terendam banjir. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda, cuaca ekstrem yang disertai peningkatan kecepatan angin selama periode 7-16 Maret 2025 menjadi salah satu faktor penyebab banjir yang melanda kota Pahlawan ini.
Kepala BMKG Juanda, Tauqif Hermawan, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer yang labil dan gangguan atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) meningkatkan potensi terjadinya hujan lebat. Hal ini memperburuk kondisi drainase yang ada, karena saluran air yang ada tidak mampu menampung debit air hujan yang sangat besar.
Menanggapi masalah ini, H. Buchori Imron, anggota Komisi C DPRD Surabaya yang membidangi pembangunan, menegaskan bahwa kejadian banjir tersebut seharusnya menjadi pembelajaran berharga untuk menghadapi potensi banjir yang semakin sering terjadi.
“Faktor penyebab banjir tidak hanya hujan deras, tetapi juga ketidakmampuan infrastruktur kota dalam menampung air, salah satunya adalah saluran drainase yang sering tersumbat oleh sampah, bangunan liar, serta kurangnya fasilitas sosial di beberapa pemukiman,” ujar H. Buchori, Senin, (17/3/2025).
H. Buchori juga menggarisbawahi pentingnya pengawasan dan perencanaan pembangunan yang lebih baik. “Kami di Komisi C DPRD Surabaya akan terus mendorong pemerintah kota untuk memperbaiki infrastruktur drainase, memperbesar kapasitas saluran air, dan menambah area resapan air. Selain itu, pengawasan terhadap pembangunan liar yang menghalangi jalur drainase juga harus lebih ketat,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi banjir lebih lanjut, H. Buchori mengusulkan agar pemerintah kota memperkuat sistem peringatan dini, seperti yang telah dilakukan oleh BMKG, dengan menyediakan akses informasi cuaca yang lebih mudah diakses oleh masyarakat.
“Peningkatan kapasitas alat penyedot banjir, serta penempatan Satgas URC (Unit Reaksi Cepat) di lokasi-lokasi rawan banjir juga harus menjadi prioritas,” tutur H. Buchori.
Dengan peningkatan infrastruktur dan kesadaran masyarakat, diharapkan Surabaya dapat lebih siap menghadapi potensi banjir yang semakin sering terjadi akibat cuaca ekstrem.
Selain itu, H. Buchori juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat dan pengawasan yang lebih ketat dari aparat pemerintah di tingkat kelurahan dan kecamatan.
“Jangan ada pembiaran terhadap pelanggar Perda yang dapat memperburuk kondisi lingkungan dan drainase,” tambahnya.
Dalam waktu dekat, Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) telah memetakan sejumlah titik rawan banjir di berbagai wilayah Surabaya, seperti di Surabaya Barat, Selatan, Timur, dan Utara. Dinas terkait juga telah menyiapkan mobil penyedot banjir, sandbag, serta truk dan alat berat untuk mempercepat penanganan banjir.
“Ke depan, kami berharap bukan hanya pengendalian banjir yang lebih baik, tetapi juga perencanaan pembangunan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, agar masalah banjir dapat diminimalisir,” pungkas H. Buchori Imron, politisi dari PPP. (B4M)





