Kamis, April 2, 2026
BerandaDPRD KOTA SURABAYAKOMISI - DMenuju Surabaya Merdeka TBC 2030, dr. Zuhrotul Mar’ah: Edukasi dan Sinergi adalah...

Menuju Surabaya Merdeka TBC 2030, dr. Zuhrotul Mar’ah: Edukasi dan Sinergi adalah Kunci!

LENSA PARLEMEN – SURABAYA
Pemerintah Kota Surabaya terus menggenjot program “Surabaya Merdeka TBC” dengan target besar: eliminasi penyakit Tuberkulosis (TBC) dari Kota Pahlawan pada tahun 2030. Anggota DPRD Surabaya dari Komisi D yang membidangi kesehatan, dr. Zuhrotul Mar’ah, menyatakan dukungannya terhadap inisiatif ini dan menekankan pentingnya edukasi serta peran aktif seluruh lapisan masyarakat.

“Kita berharap dengan adanya program Merdeka TBC, bisa dilakukan penyuluhan hingga ke tingkat RT, RW. Harapannya, tahun 2030 nanti TBC di Kota Surabaya bisa tereliminasi,” ujar dr. Zuhrotul saat diwawancarai media lensaparlemen.id

Menurut dr. Zuhrotul, penanganan TBC tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata. Dibutuhkan sinergi dari berbagai pihak untuk memberikan edukasi yang masif kepada masyarakat.

“Edukasi terkait TBC itu penting, termasuk program TOSS: Temukan, Obati, Sampai Sembuh, Pengawas Menelan Obat (PMO) Tuberkulosis, dan yang tak kalah penting adalah menghilangkan stigma terhadap pasien TBC,” jelasnya.

Stigma terhadap pasien TBC, menurutnya, masih menjadi penghambat utama. Banyak masyarakat yang masih merasa malu jika terdiagnosis TBC karena takut dijauhi lingkungan.

“Padahal, TBC itu bisa sembuh asalkan diobati dengan tepat dan tuntas minimal selama 6 bulan,” tambahnya.

dr. Zuhrotul Mar’ah, Anggota Komisi D DPRD Surabaya, saat Menghadiri Undangan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi “Penyuluhan Merdeka TBC” (Fot: B4M)

Dalam upaya pencegahan, perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok rentan, yakni anak-anak dan lansia, terutama yang tinggal serumah dengan penderita TBC.

“Biasanya mereka ini masuk dalam kategori kontak erat. Maka perlu dilakukan pemeriksaan TB, dan jika perlu, diberikan obat pencegahan agar tidak tertular,” terangnya.

Untuk anak-anak, pemeriksaan dilakukan melalui Tes Mantoux, sementara untuk orang dewasa melalui pemeriksaan dahak.

Lingkungan sekolah juga menjadi perhatian serius, mengingat potensi penularan TBC di ruang kelas yang padat dan tertutup.

“Kalau ada anak yang terkena TBC, penting untuk edukasi ke orang tua dan sekolah. Mereka harus tahu bahwa dalam tubuh penderita ada bakteri, jadi harus tahu cara mencegah penularan,” ujar dr. Zuhrotul.

Ia menyarankan agar:
Anak dan guru memakai masker
Kelas memiliki ventilasi yang baik
Jendela dibuka agar sirkulasi udara optimal

Sekolah tidak memberikan stigma terhadap anak yang sedang menjalani pengobatan TBC

“Tempat lembab dan tertutup itu tempat favorit kuman TBC. Maka sirkulasi udara sangat penting,” tegasnya.

Tak hanya sekolah, orang tua juga diharapkan memiliki kesadaran untuk membekali anak-anak dengan masker, terutama saat mereka sedang batuk atau pilek.

“Kalau anak sedang batuk pilek, sebaiknya pakai masker. Ini langkah sederhana tapi bisa mencegah penularan penyakit menular seperti TBC,” ujarnya.

Dengan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, masyarakat, sekolah, dan keluarga, Surabaya optimis dapat mencapai target Merdeka TBC 2030.

“Edukasi, eliminasi stigma, dan tindakan preventif menjadi kunci menuju kota yang sehat dan bebas dari TBC,” pungkas dr Zuhrotul Mar’ah Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN).

(B4M/LENSA PARLEMEN)

RELATED ARTICLES
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Most Popular