Rabu, April 1, 2026
BerandaSURABAYA RAYASampah 1.100 Ton/Hari Disulap Jadi Listrik, Eri Cahyadi & Khofifah Indar Parawansa...

Sampah 1.100 Ton/Hari Disulap Jadi Listrik, Eri Cahyadi & Khofifah Indar Parawansa Bikin Gebrakan Besar

Surabaya – Lensaparlemen.id

Tumpukan sampah yang selama ini menjadi persoalan klasik perkotaan kini mulai diubah menjadi solusi energi. Pemerintah daerah di kawasan Surabaya Raya resmi berkolaborasi mengolah lebih dari 1.100 ton sampah per hari menjadi listrik.

Langkah besar dilakukan Pemerintah Kota Surabaya bersama daerah aglomerasi dalam pengelolaan lingkungan. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Gedung Negara Grahadi, Sabtu (28/3/2026) malam.

Penandatanganan tersebut turut dihadiri Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dan disaksikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq.

Kolaborasi ini menjadi tonggak penting dalam upaya mengatasi persoalan sampah perkotaan sekaligus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).

“Ini bukan sekadar pengelolaan sampah, tetapi transformasi dari problem menjadi potensi energi,” ujar Khofifah.

Berdasarkan data, kawasan Surabaya Raya menghasilkan sekitar 1.100 ton sampah per hari. Pasokan tersebut berasal dari Kota Surabaya sekitar 600 ton, Gresik 250 ton, Sidoarjo 150 ton, dan Lamongan 100 ton per hari.

Rencananya, fasilitas PSEL akan dibangun di Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Pakal, Surabaya, sebagai pusat pengolahan sampah berbasis energi.

Khofifah menegaskan, sinergi antar daerah menjadi kunci keberhasilan proyek ini, terutama untuk memenuhi syarat minimal 1.000 ton sampah per hari sesuai Peraturan Presiden Nomor 105 Tahun 2025.

Sementara itu, Eri Cahyadi mengungkapkan bahwa Surabaya saat ini sudah memiliki fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di Benowo dengan kapasitas sekitar 1.000 ton per hari.

Namun, jumlah produksi sampah di Kota Pahlawan telah mencapai sekitar 1.800 ton per hari, sehingga masih tersisa sekitar 800 ton yang belum tertangani.

“Karena itu kami mengusulkan penambahan fasilitas waste to energy untuk menangani sisa sampah tersebut,” kata Eri.

Jika proyek ini disetujui pemerintah pusat, maka Pemkot Surabaya tidak perlu menanggung biaya pembangunan maupun tipping fee seperti pada fasilitas sebelumnya.

Fasilitas baru tersebut direncanakan memiliki kapasitas sekitar 1.000 ton per hari, dengan dukungan pasokan dari daerah sekitar melalui kerja sama aglomerasi.

Eri juga menegaskan bahwa Surabaya telah menjadi kota percontohan nasional dalam pengolahan sampah menjadi energi listrik karena teknologi yang digunakan tergolong ramah lingkungan.

“Dengan sistem ini, pengolahan sampah bisa lebih optimal sekaligus memperkuat kerja sama antar daerah,” tambahnya.

Di sisi lain, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengapresiasi capaian Jawa Timur yang mencatatkan pengelolaan sampah sebesar 52,7 persen—tertinggi secara nasional.

“Angka ini jauh melampaui capaian nasional yang masih di kisaran 24,95 persen,” tegasnya.

Ia juga menyoroti penurunan praktik open dumping di Jawa Timur yang dinilai lebih baik dibandingkan rata-rata nasional.

Hanif pun mendorong daerah lain untuk menjadikan Jawa Timur sebagai rujukan dalam pengelolaan sampah.

“Jawa Timur bisa menjadi barometer nasional dalam pengelolaan sampah,” pungkasnya.

Reporter: B4M | Editor: Redaksi

RELATED ARTICLES
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Most Popular