Senin, Februari 9, 2026
Beranda blog

Kabel Fiber Optik Semrawut Ditertibkan, Pemkot Surabaya Mulai Operasi Bertahap

0

Surabaya | lensaparlemen.id
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menertibkan jaringan kabel utilitas fiber optik (FO) ilegal atau tak berizin sekaligus melakukan perapian kabel milik sejumlah provider, Sabtu (7/2/2026). Penertiban ini dilakukan karena masih banyak ditemukan pemasangan kabel FO tanpa izin resmi serta belum memenuhi kewajiban sewa kepada Pemkot Surabaya.

Kegiatan penertiban melibatkan personel gabungan dari berbagai perangkat daerah (PD) di lingkungan Pemkot Surabaya, di antaranya Satpol PP, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), serta Bagian Pengadaan Barang/Jasa dan Administrasi Pembangunan (BPBJAP).

Kepala Satpol PP Kota Surabaya, Achmad Zaini, mengatakan penertiban difokuskan pada kabel utilitas fiber optik yang terpasang tanpa izin berdasarkan data resmi pemerintah kota. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh utilitas kota terpasang sesuai ketentuan serta tidak menimbulkan kesemrawutan di ruang publik.

“Kita menertibkan utilitas kabel-kabel FO yang ada di atas, tidak berizin, sesuai daftar yang kita miliki. Setelah itu akan kita tata,” ujar Achmad Zaini, Minggu (8/2).

Selain kabel tanpa izin, Pemkot Surabaya juga akan melakukan penataan terhadap kabel fiber optik milik provider yang telah mengantongi izin resmi. Penataan ini bertujuan menciptakan tata kota yang rapi, tertib, dan selaras dengan upaya memperindah wajah Kota Surabaya.

“Yang sudah ada izinnya kita tata, supaya kota ini tidak semrawut dan terlihat indah sebagaimana instruksi Bapak Presiden,” jelasnya.

Pada tahap awal, penertiban difokuskan di kawasan Jalan Dharmawangsa hingga Jalan Kertajaya, dari sisi utara hingga selatan. Kawasan tersebut menjadi titik awal operasi penertiban kabel utilitas fiber optik di Kota Surabaya.

“Mulai Jalan Dharmawangsa, dari ujung utara sampai selatan Jalan Kertajaya. Kita mulai hari Sabtu (7/2),” katanya.

Zaini menegaskan, penertiban tidak hanya dilakukan di satu lokasi. Pemkot Surabaya telah menyusun jadwal lanjutan agar penataan kabel fiber optik dilakukan secara menyeluruh di berbagai wilayah Kota Pahlawan.

“Kita tidak berhenti. Sudah ada jadwal lanjutan, Selasa (10/2), Rabu (11/2), dan Sabtu (14/2). Minggu berikutnya kita beralih ke lokasi lain,” ungkapnya.

Menurut Zaini, alasan utama penertiban karena masih banyak kabel fiber optik yang dipasang tanpa izin serta tidak membayar sewa kepada pemerintah kota.

Sementara bagi provider yang telah memenuhi kewajiban perizinan dan sewa, pemkot akan melakukan perapian agar tidak mengganggu kepentingan umum maupun utilitas lainnya.

“Yang pertama tidak berizin dan tidak sewa kepada Pemkot Surabaya. Yang kedua, jika sudah berizin dan sewa, maka kita rapikan agar tidak mengganggu kepentingan yang lain,” tegasnya.

Dalam satu pekan, terdapat empat titik yang menjadi sasaran penertiban sebelum berlanjut ke lokasi lainnya pada minggu berikutnya.

“Sementara ini di kawasan Dharmawangsa. Minggu ini ada empat lokasi, kemudian minggu depan beralih ke tempat-tempat lain,” tambahnya.

Penertiban kabel fiber optik ini diharapkan dapat meningkatkan keselamatan pengguna jalan, mengurangi risiko kabel putus, serta memperbaiki estetika kota yang selama ini dikeluhkan masyarakat. Pemkot Surabaya juga memastikan kegiatan penataan dilakukan tanpa mengganggu layanan telekomunikasi bagi warga.

Zaini mengimbau para penyedia layanan atau pemilik jaringan fiber optik agar dapat bekerja sama dengan Pemkot Surabaya. Ia menyebutkan, komunikasi dengan para provider telah dilakukan dan pemerintah membuka ruang kolaborasi demi menjaga kerapian kota.

“Kita sudah komunikasi dan mengundang provider dua kali. Kalau bisa dirapikan sendiri tentu lebih baik. Mari bersama-sama menjaga Kota Surabaya,” pungkasnya.

Sebagai informasi, penertiban kabel fiber optik tak berizin dijadwalkan berlangsung secara bertahap. Dimulai Sabtu (7/2) di Jalan Kertajaya dan Jalan Dharmawangsa, dilanjutkan Selasa (10/2) di Jalan Panjang Jiwo, Rabu (11/2) di Jalan Ambengan, serta Sabtu (14/2) di Jalan Kapas Krampung. Dalam kegiatan ini, Pemkot Surabaya mengerahkan peralatan pendukung seperti truk sky walker, truk pengangkut, dan traffic cone.

Reporter: B4M
Editor: Redaksi

Buchori Imron Gelar Reses di Tambak Segaran Wetan

Surabaya | lensaparlemen.id
Anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), H. Buchori Imron, menggelar reses untuk menyerap aspirasi masyarakat di RT 03 RW 08 Tambak Segaran Wetan, Gang 1, Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Minggu malam (8/2/2026).

Kegiatan reses tersebut dihadiri pengurus RT 03 dan RW 08, perwakilan PKK, ibu-ibu pengajian, KSH, serta karang taruna setempat. Kehadiran berbagai elemen masyarakat ini menjadi ruang dialog langsung antara wakil rakyat dan konstituen di daerah pemilihan (Dapil) Surabaya II.

Dalam sambutannya, H. Buchori Imron menegaskan bahwa reses merupakan bagian dari tugas konstitusional anggota DPRD untuk turun langsung ke tengah masyarakat guna menyerap aspirasi warga sekaligus memastikan kebijakan Pemerintah Kota Surabaya berjalan efektif hingga tingkat paling bawah.

“Reses ini menjadi momentum bagi kami untuk mendengar langsung aspirasi warga serta memastikan program Pemerintah Kota Surabaya benar-benar dirasakan hingga tingkat RT,” ujar Buchori.

Ia menjelaskan, pemilihan lokasi reses di RT 03 RW 08 Tambak Segaran Wetan dilakukan untuk mengecek secara langsung pelaksanaan program pembangunan dan bantuan sosial yang telah digulirkan oleh Pemerintah Kota Surabaya.

“Kami ingin memastikan bantuan sosial, program kesejahteraan, serta pembangunan lingkungan benar-benar tepat sasaran. Jika ada kendala maupun usulan dari warga, silakan disampaikan agar dapat kami tindak lanjuti melalui DPRD,” tegasnya.

Pada sesi dialog, warga menyampaikan sejumlah aspirasi, di antaranya program rumah tidak layak huni (Rutilahu), Program Indonesia Pintar (PIP), pemasangan CCTV lingkungan, serta permintaan fasilitas salon sederhana untuk mendukung kegiatan pengajian ibu-ibu.

Ketua RT 03 RW 08, Muhammad Nur, menyampaikan bahwa berbagai usulan tersebut merupakan kebutuhan riil warga yang diharapkan dapat memperoleh perhatian melalui pembahasan di DPRD Kota Surabaya.

Menanggapi hal tersebut, Buchori menyatakan komitmennya untuk menampung dan mengawal seluruh aspirasi masyarakat agar dapat ditindaklanjuti bersama Pemerintah Kota Surabaya sesuai dengan kewenangan DPRD.

Melalui kegiatan reses ini, diharapkan komunikasi antara masyarakat dan wakil rakyat semakin erat, sekaligus menjadi jembatan agar kebijakan pemerintah daerah semakin responsif dan tepat sasaran terhadap kebutuhan warga di tingkat akar rumput.

Reporter: Bambang
Editor: Redaksi

Baktiono: Satu Tahun Eri–Armuji Bukti Kepercayaan Publik pada Kepemimpinan Kader PDI Perjuangan

Surabaya | Lensaparlemen.id
Anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Baktiono, menilai satu tahun kepemimpinan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Wakil Wali Kota Armuji menunjukkan kesinambungan pembangunan kota yang konsisten sejak era reformasi.

Pernyataan itu disampaikan Baktiono saat menjawab pertanyaan awak media terkait satu tahun kepemimpinan Eri Cahyadi–Armuji, usai reses di RW 4 Jalan Tuwowo, Kapas Madya, Surabaya, Sabtu malam (7/2/2026).

Menurut Baktiono, kepercayaan masyarakat Surabaya terhadap kader PDI Perjuangan tidak terlepas dari kesinambungan tata kelola pemerintahan yang telah dibangun sejak kepemimpinan Bambang Dwi Hartono (Bambang DH) dan dilanjutkan oleh Tri Rismaharini, hingga saat ini di bawah kepemimpinan Eri Cahyadi–Armuji.

“Sejak pascareformasi, wali kota Surabaya selalu berasal dari kader PDI Perjuangan. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat yang luar biasa karena pembangunan dilakukan berkesinambungan dan tidak terputus,” ujar Baktiono.

Penataan Birokrasi hingga Infrastruktur Berkelanjutan

Baktiono menjelaskan, pada masa Bambang DH, Pemerintah Kota Surabaya mulai melakukan penataan organisasi birokrasi dengan prinsip ramping, kaya fungsi, efektif, dan efisien. Jumlah dinas yang sebelumnya dinilai terlalu gemuk dipangkas agar kinerja lebih optimal.

“Waktu itu saya juga ditunjuk sebagai anggota panitia khusus organisasi. Prinsipnya birokrasi harus bekerja efisien dan benar-benar melayani masyarakat,” jelasnya.

Penataan tersebut, lanjut Baktiono, dibarengi dengan pembangunan kota, termasuk pengembangan taman-taman kota yang kala itu dipimpin oleh Kepala Dinas Pertamanan Tri Rismaharini.

“Duet Bambang DH dan Bu Risma sangat kuat. Penataan organisasi jalan, pembangunan juga berjalan,” katanya.

Kebijakan pembangunan tersebut kemudian dilanjutkan pada era Wali Kota Tri Rismaharini dengan fokus pada pembangunan kampung, infrastruktur jalan, pavingisasi, penerangan jalan umum, hingga sektor pendidikan dan kesehatan.

“Pendidikan sudah gratis dan diterapkan wajib belajar 12 tahun. Fondasi ini terus dilanjutkan,” imbuh Baktiono.

Fokus Penanganan Banjir dan Perda Air Limbah

Memasuki kepemimpinan Eri Cahyadi dan Armuji, Baktiono menilai fokus pembangunan mulai diarahkan pada persoalan strategis, salah satunya penanganan banjir.

“Surabaya ini kawasan dataran rendah. Saat hujan, air kiriman dari dataran tinggi seperti Prigen semuanya bermuara ke Sungai Brantas dan masuk ke Surabaya,” paparnya.

Ia menyebutkan, Pemerintah Kota Surabaya saat ini telah memasang banyak pompa air untuk mempercepat penanganan genangan. Selain itu, DPRD Surabaya juga tengah mempercepat pembahasan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik.

“Perda ini salah satunya bertujuan mengurangi banjir. Prinsipnya, saluran air harus kosong dan air hujan dialirkan dengan cepat, sementara air limbah dialirkan melalui jaringan pipa khusus,” jelas Baktiono.

Konsep tersebut, lanjutnya, mencontoh sistem pengelolaan air di sejumlah negara maju seperti Singapura, di mana air limbah diolah kembali menjadi energi, pupuk, hingga air yang dapat dimanfaatkan ulang.

Namun Baktiono mengakui kebutuhan anggaran pembangunan jaringan tersebut sangat besar. Berdasarkan kajian akademisi, biaya pembangunan jaringan air limbah mencapai Rp1 hingga Rp1,5 miliar per RW, sementara Surabaya memiliki sekitar 1.250 RW.

“Hitungannya sudah triliunan rupiah. Karena itu, mau tidak mau harus dilakukan kerja sama dengan pihak ketiga, termasuk dari luar negeri,” tegasnya.

Soroti Pendidikan SMA/SMK dan Pelayanan Publik

Selain infrastruktur, Baktiono juga menyoroti persoalan pendidikan, khususnya terkait kewenangan pengelolaan SMA dan SMK yang berada di tangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

“Surabaya punya Perda Wajib Belajar 12 Tahun. Tapi SMA dan SMK kewenangannya ada di provinsi. Akibatnya masih banyak kasus ijazah yang ditahan,” ungkapnya.

Ia mengaku hampir setiap hari membantu warga mengambil ijazah yang tertahan karena kondisi tersebut berpotensi menambah angka kemiskinan baru.

“Tanpa ijazah, warga sulit bekerja dan melanjutkan pendidikan. Ini menyangkut hak dasar masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, terkait birokrasi di tingkat kelurahan dan kecamatan, Baktiono menilai pelayanan publik sudah berjalan cukup baik seiring meningkatnya kontrol masyarakat. Meski demikian, ia mengusulkan penambahan sistem pengawasan audio visual di tempat-tempat pelayanan publik.

“Bukan hanya CCTV visual, tetapi juga audio. Dengan begitu, jika ada kesalahan dari warga atau petugas, semuanya ada bukti dan pelayanan bisa lebih transparan,” pungkas Baktiono.

Reporter: B4M
Editor: Redaksi Lensa Parlemen

Surabaya Jadi Wakil Tunggal Indonesia di Forum Anak Dunia di Tokyo 2026, Bangga!

0

Surabaya | lensaparlemen.id
Surabaya kembali membuat bangga Indonesia. Kota Pahlawan menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia dalam Tokyo Global Forum on Children (TGFC) 2026 yang digelar di Tokyo, Jepang, pada 4–6 Februari 2026. Surabaya hadir bersama 20 kota dunia, menunjukkan model kota ramah anak yang holistik dan berbasis komunitas.

Forum internasional yang diselenggarakan oleh Pemerintah Metropolitan Tokyo itu mempertemukan kota-kota global yang tergabung dalam Child Friendly Cities Initiative (CFCI) UNICEF. Forum ini menjadi ajang berbagi kebijakan dan inovasi untuk memastikan hak anak dan remaja terpenuhi secara menyeluruh.

Kepala Bappeda Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, menyatakan Surabaya mendapat kehormatan mempresentasikan langsung model pembangunan kota ramah anak di hadapan kota-kota dunia seperti Auckland, Berlin, Brussels, Cardiff, Copenhagen, Helsinki, Houston, London, Malmö, Milan, Munich, New Taipei, New York, Petaling Jaya, Singapura, Taipei, Toronto, Vienna, serta Irlandia.

“Kehadiran Surabaya menempatkan kota ini sejajar dengan kota-kota dunia yang menjadi rujukan global dalam kebijakan anak dan remaja,” kata Irvan, Sabtu (7/2/2026).

Irvan menambahkan, pendekatan Surabaya berbasis layanan anak yang holistik dan integratif, dimulai sejak usia dini, berlanjut ke usia sekolah dan remaja, serta melibatkan peran orang tua, termasuk ayah, sebagai bagian penting dalam ekosistem pengasuhan dan pendidikan.

“Surabaya memastikan kebijakan ramah anak tidak hanya berbicara soal perlindungan, tetapi juga tentang partisipasi anak dalam pembangunan kota,” tambahnya.

Ketua Tim Kerja Pembangunan Manusia Bappeda Kota Surabaya, Puspita Ayuningtyas Prawesti, menjelaskan bahwa Surabaya membangun kota ramah anak dengan memastikan layanan publik dekat, menyeluruh, dan berkelanjutan.

Layanan tersebut mencakup pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, kesehatan mental, pengembangan karakter, serta penguatan kapasitas keluarga hingga komunitas melalui Balai RW.

“Anak tidak hanya dilindungi, tetapi aspirasi mereka juga didengar dan dihargai dalam setiap proses pembangunan kota,” ujar Puspita.

Model pembangunan anak Surabaya mendapat apresiasi dari Pemerintah Metropolitan Tokyo dan peserta forum. Pendekatan Surabaya dinilai berhasil menerjemahkan konsep Child-Friendly City ke dalam praktik nyata yang komprehensif, berkelanjutan, dan berbasis komunitas.

Keikutsertaan Surabaya dalam TGFC 2026 didukung oleh rekam jejak kuat: Surabaya meraih predikat Kota Layak Anak tingkat nasional selama tujuh kali berturut-turut dan menjadi kota pertama serta satu-satunya di Indonesia yang tergabung dalam CFCI UNICEF.

Forum ini juga menghadirkan suara anak secara langsung melalui Revalina Fernanda, siswi SMPN 1 Surabaya, anggota Forum Anak Surabaya dan Organisasi Pelajar (ORPES) Kota Surabaya. Revalina juga dikenal sebagai Eco Student (Junior) of the Year 2025 dan Putri V Lingkungan Hidup 2024.

Kehadiran Revalina menunjukkan praktik partisipasi bermakna anak di Surabaya, di mana anak berperan aktif menyampaikan gagasan dan harapan mereka terhadap kota.

Melalui keikutsertaan sebagai wakil tunggal Indonesia di TGFC 2026, Surabaya menegaskan bahwa pembangunan kota berkelanjutan harus dimulai dari anak dan keluarga.

“Surabaya menunjukkan bahwa kota Indonesia mampu berdiri sejajar dan berkontribusi nyata dalam diskursus global tentang masa depan generasi muda,” pungkasnya.

Reporter: B4M
Editor: Redaksi Lensa Parlemen

Reses di Tambaksari Surabaya, Baktiono Terima Keluhan Warga soal Pindah KK hingga Beasiswa Pemuda Tangguh

Surabaya | lensaparlemen.id
Anggota DPRD Kota Surabaya, Baktiono, menyerap berbagai aspirasi masyarakat dalam kegiatan reses yang digelar di RW 04, Jalan Tuwowo I, Kelurahan Kapas Madya Baru, Kecamatan Tambaksari, Surabaya. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu malam (7/2) tersebut merupakan bagian dari agenda reses di Daerah Pemilihan (Dapil) II.

Dalam dialog tersebut, warga menyampaikan berbagai persoalan, mulai dari administrasi kependudukan, khususnya persyaratan pindah Kartu Keluarga (KK), hingga kebijakan Beasiswa Pemuda Tangguh.

Salah satu keluhan utama warga adalah kewajiban kepemilikan surat tanah sebagai syarat pindah KK. Ketentuan tersebut dinilai memberatkan, terutama bagi warga lama Surabaya yang menempati rumah turun-temurun atau rumah sewa.

Menanggapi hal itu, Baktiono menjelaskan bahwa persyaratan pindah alamat, baik antarwilayah di Surabaya maupun dari luar kota ke Surabaya, merupakan kebijakan pemerintah pusat.

“Persyaratan pindah alamat memang harus memiliki surat tanah. Ini kebijakan nasional karena data kependudukan terintegrasi langsung dengan database pusat melalui Nomor Induk Kependudukan (NIK),” ujar Baktiono.

Meski demikian, ia mengakui bahwa kebijakan tersebut masih menimbulkan kendala di lapangan. Aspirasi warga, lanjutnya, akan dijadikan bahan evaluasi untuk disampaikan kepada pemerintah di tingkat yang lebih tinggi.

Selain persoalan kependudukan, Baktiono juga menjelaskan terkait layanan kesehatan bagi warga Surabaya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat tetap mendapatkan pelayanan kesehatan meskipun BPJS Kesehatan tidak aktif atau menunggak, selama memiliki identitas kependudukan Surabaya.

“Cukup menunjukkan KTP dan KK Surabaya. Walaupun BPJS menunggak, warga tetap dilayani dan nantinya akan dialihkan secara otomatis ke BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI),” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, warga juga mempertanyakan kebijakan Beasiswa Pemuda Tangguh, khususnya pembatasan penerima dalam satu keluarga.

Baktiono menjelaskan bahwa program Beasiswa Pemuda Tangguh merupakan bagian dari kebijakan Pemerintah Kota Surabaya melalui program Satu Rumah Satu Sarjana yang digagas Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

“Jumlah peminat beasiswa terus meningkat setiap tahun. Karena keterbatasan anggaran, bantuan harus dibagi secara merata dan saat ini belum bisa ditanggung penuh seperti sebelumnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kebijakan satu Kartu Keluarga satu sarjana menyebabkan dalam satu keluarga hanya satu anak yang dapat menerima Beasiswa Pemuda Tangguh, meskipun lebih dari satu anak memiliki prestasi.

Meski begitu, Baktiono menegaskan bahwa jalur prestasi tetap terbuka bagi pelajar dan mahasiswa berprestasi di Kota Surabaya, baik akademik maupun nonakademik. Ketentuan tersebut diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2012, termasuk bagi atlet yang meraih prestasi minimal tingkat provinsi.

Menutup kegiatan reses, Baktiono menegaskan komitmennya untuk menyampaikan seluruh aspirasi warga kepada Pemerintah Kota Surabaya, DPRD Provinsi Jawa Timur, hingga DPR RI.

“Jika ini merupakan kebijakan pusat, maka evaluasi dari daerah harus disampaikan ke pemerintah pusat. Aspirasi warga sangat penting karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat,” pungkas Baktiono Politisi senior PDI Perjuangan.

Reporter: B4M
Editor: Redaksi Lensa Parlemen

Reses Pertama 2026, Bang Jo Disambati Warga Soal Beasiswa PIP, KIP, dan Pemuda Tangguh

Surabaya | lensaparlemen.id
Anggota DPRD Kota Surabaya, Johari Mustawan, menggelar kegiatan reses pertama Tahun 2026 di wilayah Dukuh Pakis, Kamis (5/2/2026). Dalam kegiatan tersebut, warga memanfaatkan momen reses untuk menyampaikan langsung berbagai aspirasi, khususnya di bidang pendidikan.

Mayoritas aspirasi yang disampaikan warga berkaitan dengan program beasiswa, mulai dari Program Indonesia Pintar (PIP), Kartu Indonesia Pintar (KIP), hingga Beasiswa Mahasiswa Pemuda Tangguh. Warga berharap kebijakan beasiswa dapat berjalan konsisten, merata, dan benar-benar meringankan beban keluarga penerima.

Salah satu warga Dukuh Pakis, Siti Zumaroh, menyampaikan keluhannya terkait Uang Kuliah Tunggal (UKT) anaknya yang saat ini tidak lagi ditanggung penuh oleh Pemerintah Kota Surabaya. Padahal, pada periode sebelumnya, biaya UKT tersebut dapat dibayarkan secara penuh oleh pemerintah daerah.

“Dulu pembayaran UKT anak saya full ditanggung Pemkot Surabaya, tapi sekarang tidak lagi. Kami berharap kebijakan ini bisa dikaji ulang agar tidak memberatkan orang tua,” ujar Siti saat menyampaikan aspirasinya.

Menanggapi hal tersebut, Bang Jo, sapaan akrab Johari Mustawan, menegaskan bahwa Beasiswa Mahasiswa Pemuda Tangguh merupakan bentuk nyata keberpihakan pemerintah daerah terhadap akses pendidikan tinggi bagi warga Surabaya.

“Program Beasiswa Mahasiswa Pemuda Tangguh adalah wujud keberpihakan pemerintah daerah agar anak-anak Surabaya tidak terhambat melanjutkan kuliah hanya karena faktor ekonomi,” tegas Bang Jo.

Ia juga memaparkan data penerima beasiswa, di mana sebanyak 2.437 mahasiswa masih berstatus aktif sejak tahun 2022 hingga 2025. Selain itu, terdapat 1.775 mahasiswa dengan besaran UKT di atas Rp2,5 juta yang tersebar di 15 perguruan tinggi negeri (PTN).

Bang Jo menegaskan, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan mahasiswa dari keluarga tidak mampu tetap bisa melanjutkan pendidikan.

“Mahasiswa dari keluarga miskin dan pra-miskin, desil 1 sampai 5, dengan UKT di atas Rp2,5 juta, selisih pembayarannya sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah,” jelasnya.

Seluruh aspirasi warga yang disampaikan dalam kegiatan reses ini akan dicatat dan dikawal melalui mekanisme pembahasan di DPRD Kota Surabaya, agar kebijakan beasiswa ke depan semakin tepat sasaran, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Reporter: B4M
Editor: Redaksi Lensa Parlemen

Lebih dari 50 Wartawan PWI Jatim Hadiri HPN 2026 di Serang Banten

0

Surabaya | lensaparlemen.id
Kontingen PWI Jatim menghadiri HPN 2026 di Serang Banten dengan jumlah terbanyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tercatat lebih 50 orang pengurus dan anggota PWI Jatim berangkat ke Banten menggunakan pesawat udara, kereta api dan bus.

Lebih istimewa dan baru kali ini juga, Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) yg terdiri ibu-ibu keluarga PWI Jatim sebanyak 7 orang ikut menghadiri HPN 2026 di Serang Banten.

Rombongan yang menggunakan bus dikoordinir Sekretaris PWI Jatim Syaiful Anam, berangkat Sabtu pagi (7/2/2026) dari gedung PWI Jatim.

Sementara yang menggunakan pesawat dan kereta api, berangkat pada tanggal 6 dan 7 Februari 2026.
“Ada juga yang berangkat dari masing-masing Cabang PWI Kabupaten dan Kota berbagai daerah di Jatim, ” ujar Syaiful Anam.

Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim menyatakan antusias anggota PWI Jatim untuk menghadiri HPN di Serang Banten tak lepas dari kondisi PWI Pusat yg saat ini solid bersatu.

“Ada euforia setelah sebelumnya PWI pecah, saat HPN tidak bergairah. Kini bersyukur rukun dan kembali, ” ujarnya.

Termasuk keikutsertaan IKWI Jatim yang dikoordinir Ny. Endang. “Alhamdulillah ibu-ibu anggota IKWI PWI Jatim turut mensupport sukseskan HPN PWI di Serang Banten, ” ujar Ny Endang.

HPN 2026 dipusatkan di Serang Banten berlangsung mulai tanggal 6 hingga 9 Februari 2026. Berbagai agenda mulai kegiatan sosial, seminar, rakornas hingga puncaknya tgl 9 Februari 2026 Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir memberikan sambutan.

Kontingen PWI Jatim dipastikan mengikuti seluruh rangkaian agenda HPN 2026 di Serang Banten. Sebelumnya telah dilakukan rapat panitia untuk memastikan seluruh agenda dan jadwal dapat diikuti dengan baik.

Redaksi Lensa Parlemen

Pemkot Surabaya Gandeng 38 Hotel, Dorong UMKM Lokal Naik Kelas dan Perkuat Ekonomi Warga

Surabaya | lensaparlemen.id
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menjalin sinergi dengan sektor perhotelan untuk memperkuat ekonomi kerakyatan. Hal ini ditandai dengan Penandatanganan Naskah Kesepakatan Bersama (NKB) antara Pemkot Surabaya dengan 38 hotel di Kota Pahlawan, bertempat di Lobby Balai Kota, Jumat (6/2/2026).

Kerja sama bertajuk “Peningkatan Perekonomian Melalui Pemenuhan Kebutuhan Usaha dan Tenaga Kerja pada Hotel” ini bertujuan untuk menjadikan UMKM dan warga lokal sebagai pemasok kebutuhan operasional hotel, mulai dari bahan pangan hingga perlengkapan kamar.
Dalam paparannya, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengajak para pelaku usaha, khususnya sektor perhotelan untuk bersinergi dalam memberikan dampak positif dan manfaat yang luas bagi warga Surabaya.

“Saya ingin investasi ini bermanfaat untuk warga sekitar. Kalau hotel punya jaringan, kegiatan Surabaya juga bisa dipromosikan di sana. Intinya, kita harus bersatu untuk menaikkan okupansi pasca pandemi,” ujar Wali Kota Eri Cahyadi.

Ia mengungkapkan, dalam NKB disepakati bahwa pihak hotel berkomitmen untuk menyerap kebutuhan logistik dari warga atau UMKM Surabaya, mulai dari daging sapi, daging ayam, telur, hingga kebutuhan perlengkapan hotel, seperti slipper dan lainnya.

Berdasarkan data rekapitulasi, potensi serapan kebutuhan hotel per bulan sangat besar. Beberapa komoditas utama yang dibutuhkan antara lain:

5,6 ton daging ayam
600 kilogram daging sapi
4,7 ton sayuran
12 ton buah-buahan
3.200 liter susu segar
8 ton telur
3,5 ton beras
4,3 ton gula
2,6 ton minyak goreng
39.000 pasang slipper

“Kebutuhan tersebut sangat banyak sehingga inilah peluang besar bagi warga dan UMKM di Kota Pahlawan untuk naik kelas,” imbuhnya.

Dengan adanya kerja sama ini, Cak Eri sapaan Wali Kota Eri Cahyadi mendorong dinas terkait untuk memastikan UMKM mampu memenuhi standar kualitas yang ditetapkan hotel melalui proses kurasi dan pelatihan.

“Sekarang tinggal kita mampu atau tidak memenuhi standar mereka. Negara harus hadir membantu warga miskin agar produknya naik kelas,” tegasnya.

Wali Kota Eri Cahyadi menambahkan bahwa langkah konkret ini diambil untuk menjalankan instruksi Presiden Prabowo Subianto dalam mengentaskan kemiskinan dan membantu warga tidak mampu melalui pemberdayaan ekonomi.

“Saya berharap kerja sama ini dapat menciptakan suasana investasi yang aman dan nyaman agar ekonomi masyarakat dapat terus bergerak,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur, Puguh Sugeng Sutrisno, menyambut baik kolaborasi ini. Selain komitmen penggunaan produk UMKM, dirinya juga mengapresiasi dukungan Pemkot Surabaya terkait kebijakan pengupahan.

“Terima kasih kepada Bapak Wali Kota dan jajaran atas dukungannya terkait revisi UMSK Surabaya tahun 2026. Ini memberikan ruang bagi hotel untuk lebih stabil secara finansial sehingga kami bisa terus bersinergi dengan UMKM demi kemajuan ekonomi Surabaya,” kata Puguh.

Untuk diketahui, penandatanganan ini merupakan tahap awal yang melibatkan hotel bintang 2 hingga bintang 5. Ke depan, jumlah hotel yang terlibat akan terus bertambah seiring dengan kesiapan pasokan dari para pelaku usaha lokal.

Reporter: B4M
Editor: Redaksi Lensa Parlemen

Warga Tambak Asri Usulkan Pengembangan Akuakultur Saat Reses Enny Minarsih

Surabaya | lensaparlemen.id
Warga RW 06 Tambak Asri, Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, menyampaikan aspirasi terkait pengembangan ekonomi masyarakat berbasis budidaya perikanan (akuakultur) dalam kegiatan reses Anggota DPRD Kota Surabaya, Enny Minarsih, Jumat malam (6/2/2026).

Aspirasi tersebut disampaikan oleh Agus Suranta, tokoh masyarakat RW 06 Tambak Asri. Ia mengusulkan dukungan Pemerintah Kota Surabaya terhadap pengembangan budidaya ikan gurami, ikan nila, dan lobster air tawar yang dikelola bersama warga dan pemuda Karang Taruna.

“Alhamdulillah, pada tahun pertama budidaya sudah berjalan dan menunjukkan hasil. Namun kami masih terkendala sarana kolam,” ujar Agus.

Ia menjelaskan, kolam yang dibutuhkan meliputi kolam beton, kolam terpal, serta kolam fiber yang dinilai lebih sesuai untuk budidaya lobster air tawar karena lebih tahan lama. Ketersediaan lahan, menurutnya, telah disiapkan dan mendapat dukungan dari pengurus RW serta tokoh masyarakat setempat.

“Kami berharap ada dukungan penambahan kolam agar budidaya bisa dikembangkan dan hasilnya dapat meningkatkan perekonomian warga,” katanya.

Menanggapi aspirasi tersebut, Enny Minarsih menyatakan akan menampung dan menindaklanjuti usulan warga sesuai mekanisme dan kewenangan DPRD, serta mendorong sinergi dengan Pemerintah Kota Surabaya.

“Penguatan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dalam aspirasi reses. Seluruh masukan akan kami catat dan perjuangkan sesuai tugas dan fungsi DPRD,” tegas Enny.

Diketahui, Enny Minarsih merupakan Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya sekaligus Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Reporter: B4M
Editor: Redaksi Lensa Parlemen

Enny Minarsih Terima Aspirasi Warga Tambak Asri Terkait Evaluasi Bantuan Sosial

Surabaya | lensaparlemen.id
Anggota DPRD Kota Surabaya, Enny Minarsih, menyerap aspirasi warga terkait evaluasi bantuan sosial dan kebijakan kepemudaan saat melaksanakan reses masa persidangan kedua tahun sidang 2026 di RT 20 RW 06 Tambak Asri, Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya, Jumat malam (6/2/2026).

Aspirasi tersebut disampaikan oleh perwakilan warga RW 06 Tambak Asri, Muhammad Zahirul Abidin, yang menyoroti kebijakan evaluasi penerima bantuan seperti Program Indonesia Pintar (PIP),

Program Pemuda Tangguh (pelajar), serta beasiswa mahasiswa Pemuda Tangguh yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya.

Zahirul menjelaskan, sebelumnya banyak warga RW 06 menerima bantuan dari pemerintah kota, provinsi, hingga pusat melalui pendampingan kader dan rekomendasi berbagai pihak. Namun, evaluasi ulang terhadap penerima bantuan dinilai menimbulkan kebingungan di masyarakat.

“Kami memahami adanya evaluasi agar bantuan tepat sasaran. Namun di lapangan, ada warga yang sebelumnya dinyatakan layak dan telah menerima bantuan, kini justru dinyatakan tidak layak,” ujarnya.

Selain itu, Zahirul juga menyoroti persoalan distribusi informasi program pemerintah yang dinilai belum merata. Menurutnya, sejumlah program pelatihan dan pemberdayaan pemuda kerap berhenti di tingkat kelurahan dan tidak sampai ke RW maupun RT.

Menanggapi aspirasi tersebut, Enny Minarsih, anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PKS, menjelaskan bahwa evaluasi program bantuan merupakan kewenangan kepala daerah sebagai upaya penyempurnaan kebijakan.

“Terkait Program Pemuda Tangguh dan bantuan lainnya, wali kota memiliki kewenangan melakukan evaluasi agar program benar-benar tepat sasaran,” jelas Enny.

Ia juga mengakui masih adanya kendala dalam sosialisasi program Organisasi Perangkat Daerah (OPD) kepada masyarakat di tingkat bawah.

“Banyak program dinas yang informasinya hanya sampai di kelurahan atau RW dan tidak menjangkau RT. Ini menjadi catatan penting untuk dibenahi,” katanya.

Enny menegaskan bahwa DPRD memiliki peran dalam menampung, memediasi, dan mengawal aspirasi masyarakat agar dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Surabaya sesuai mekanisme yang berlaku.

Reporter: B4M
Editor: Redaksi Lensa Parlemen